Walikota Bertekad Jadikan Kopi Aceh sebagai Ikon Dunia

analisisnews.com/ist: Walikota Banda Aceh Aminullah Usman didampingi Wakil Walikota Zainal Arifin yang sedang meracik kopi sareng, menyajikan kopi kepada pengunjung di salah satu stand kegiatan Banda Aceh Coffee Festival 2018 di Taman Bustanussalatin (Taman Sari), Sabtu (15/12/2018)

BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman bertekad untuk membawa kopi Aceh naik level, dari ikon nasional menjadi ikon dunia.

“Mari bersama kita promosikan kopi Aceh sebagai salah satu kopi ternikmat di dunia baik dari sisi aroma maupun cita rasanya. Kopi Aceh harus bisa naik level, dari ikon nasional menjadi ikon dunia,” kata Aminullah.

Tekad tersebut disampaikannya saat membuka Banda Aceh Coffee Festival 2018 di Taman Bustanussalatin (Taman Sari), Sabtu (15/12/2018). Diikuti oleh 20 stand kopi dan beragam penampilan seni budaya, acara ini akan berlangsung hingga Senin (17/12) mendatang.

Di awal sambutan, wali kota menceritakan sekilas mengenai sejarah kopi hingga masuk dan menjadi komoditi andalan Aceh. “Asal mulanya kopi dari kawasan Ethopia pada abad ke-9. Lalu terus berkembang hingga ke Arab dan Afrika Utara. Dari sana baru masuk ke Asia dan Eropa.”

“Ke Indonesia sendiri tepatnya di Batavia, kopi dikenal sekitar tahun 1696. Baru kemudian masuk ke Aceh pada 1908 dan dikembangkan di daerah Gayo dengan jenis kopi Arabika. Selanjutnya jenis Robusta ditanam di daerah pesisir atau dataran yang lebih rendah. Jadi, kenikmatan cita rasa kopi ini sudah dikenal sejak berabad-abad lampau,” kisahnya.

Menurut Aminullah, kopi kini telah menjelma menjadi sumber ekonomi rakyat yang menjanjikan. “Dengan kopi kita dapat menyelesaikan berbagai persoalan mulai dari kemiskinan hingga pengangguran. Banda Aceh terkenal dengan sebutan Kota 1001 Warkop dan jika satu Warkop saja memperkerjakan 10 orang, maka sudah 10 ribu tenaga kerja yang terserap.”

“Kebun kopi terluas boleh ada di wilayah tengah dan barat Aceh, tapi warga Banda Aceh harus bisa kaya dengan kopi karena pusat industri kopi; perdagangan, pemasaran, dan promosinya ada di Banda Aceh,” kata Aminullah.

“Lalu kenapa harus kopi? Selain enak dan nikmat, kopi juga bisa menjadi obat sakit kepala dan penahan kantuk. Di samping menjadi sumber ekonomi rakyat, kopi juga perekat silaturahmi. Motto ngopi di Banda Aceh itu ‘Secangkir Kopi Sejuta Cerita’, karena segala hal mulai dari urusan bisnis hingga hal-hal lainnya dibahas di Warkop,” katanya lagi.

Ia menambahkan, Banda Aceh juga baru saja dinobatkan sebagai Pesona Wisata Halal Terpopuler di Indonesia. “Ini tentu menambah nilai tawar Banda Aceh di bidang pariwisata. Jadi selain banyak aktivitas keagamaan, objek wisata islami, kuliner halal, lalu ada kopi lagi yang akan semakin menarik minat wisatawan untuk datang ke kota kita.”

Soal keamanan di Banda Aceh juga tak perlu dirisaukan lagi. “Banda Aceh benar-benar aman dan kondusif bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Selama dua hari kemarin saya ikut mendampingi Pak Presiden Jokowi di Banda Aceh, dan beliau memang tidak meminta pengaman yang super ketat karena yakin Banda Aceh sangat aman. Saat acara di AAC Dayan Dawood misalnya, tidak dilakukan scanning tapi tamu dan peserta cukup menunjukkan undangan saja,” ungkap wali kota.

Tak ketinggalan, Aminullah meminta pengusaha hotel untuk ikut mempromosikan Kopi Aceh kepada setiap tamunya. “Bukan hanya kopi, tapi juga promosikan produk-produk para perajin kita. Tugas saya untuk mendatangkan tamu sebanyak-banykanya agar hotel penuh semua,” tukasnya.

Wali kota meyakini, semakin banyak wisatawan yang berkunjung maka akan semakin meningkat perekonomian suatu daerah. “Tahun ini kita targetkan 500 ribu kunjungan wisatawan dari sebelumnya 300-an ribu. Dan tahun depan harus bisa mencapai angka satu juta.”

“Untuk itu, saya mengajak seluruh warga kota untuk memberikan pelayanan terbaik kepada setiap tamu atau wisatawan yang datang ke Banda Aceh. Kebersihan kota juga mari kita jaga bersama karena menjadi faktor penting untuk semakin menarik minat wisatawan,” pungkas wali kota

Sebelumnya di tempat yang sama, Kadis Pariwisata Banda Aceh M Rizha mengatakan kegiatan ini merupakan agenda tahunan pihaknya dalam rangka mempromosikan Banda Aceh melalui kopi. “Seperti kita maklumi, kopi telah menjadi ikon Aceh di tingkat nasional bahkan internasional.”

“Banda Aceh juga terkenal sebagai 1001 warung kopi, dan ngopi sudah menjadi akar budaya masyarakatnya. Dan pada festival kopi kali ini terdapat 20 stand yang menawarkan beragam racikan kopi baik jenis Robusta maupun Arabica,” katanya.

“Selain itu, juga akan ada berbagai lomba seperti edukasi tentang kopi, lomba instagram, dan pada Senin (17/12) nanti ada acara minum Kopi Khop 1.000 cangkir. Bakal ada juga penampilan artis ibukota dan lokal untuk memeriahkan acara,” kata M Rizha.

Pembukaan Banda Aceh Coffee Festival 2018 ditandai dengan penabuhan Rapai oleh Wali Kota Aminullah bersama Wakil Wali Kota Zainal Arifin, Kapolresta Trisno Riyanto, Sekda Bahagia, dan Ketua PKK Banda Aceh Nurmiaty AR. Hadir pula Ketua PKK Aceh Darwati A Gani dan Plt Kadispar Aceh Amiruddin. (J)