Jelang Pemilu, Utusan Kedubes Inggris Kunjungi Aceh

Ketua Komisi I DPRA, Tgk. Azhari, (peci merah) menjelaskan kondisi keamanan Aceh jelang pemilu kepada dua utusan Kedubes Inggris (paling kiri) saat berkunjung ke DPRA, Selasa, (22/1/2019)

BANDA ACEH – Untuk memantau perkembangan menjelang pemilihan umum (Pemilu) serentak bulan April mendatang, sejumlah utusan dari kedutaan besar (Kedubes) Inggris, mengunjungi Aceh, Selasa, (22/1/2019).

Mereka menemui sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) di Banda Aceh. Mereka yang berkunjung diantaranya Political Officer Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Ramon Yudistiro Sevilla danArdi Hendarto (Asisten Political Officer). Setiba di DPRA, keduanya melakukan pertemuan dengan anggota komisi 1 DPRA.

Usai pertemuan, Ramon mengatakan, tujuan utama Kedutaan Inggris berkunjung ke Aceh adalah untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan keamanan menjelang pemilu serentak Indonesia.

Menurutnya, di mata Pemerintah Inggris, Aceh sangat spesial. Untuk itu, pihaknya perlu mendapatkan banyak informasi tentang Aceh menjelang pemilihan umum. Apalagi, katanya, rakyat Aceh memiliki minat yang cukup besar terlibat dalam pemilihan Presiden RI pada 2019.

“Tujuan kami ingin melihat dan memahami proses politik di Aceh jelang pemilihan umum. Bagaimana perkembangan pemilunya, apalagi ini merupakan pemilu yang sangat kompleks pelaksanannya,” kata Ramon Yudhistiro.

Kompleks menurutnya, yakni pelaksanaan pemilu secara bersamaan antara pemilu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), DPRA, DPR RI serta pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Dia juga mengatakan, informasi yang didengarnya di luar, bahwa provinsi Aceh terdengar masih rawan. 

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi I DPRA, Tgk. Azhari, S. IP, membantah, adanya informasi yang terdengar bahwa Aceh rawan keamanan. Untuk memastikan hal itu, Azhari berharap, Ramon bisa melihat di seluruh wilayah Aceh.

“Tidak ada keributan di Aceh seperti issue-issue yang saudara Ramon dengar. Seperti saat saudara sampai di bumi Aceh. Apakah saudara ada diganggu. Apakah saudara tidak dilayani dengan ramah. Lihatlah disekeliling anda saat ini, apakah diantara kami ada yang tidak tersenyum. Untuk lebih meyakinkan anda silahkan keliling Aceh,” ujarnya.

Dikatakannya, Aceh terkenal dengan daerah seribu warung kopi. “Silahkan anda cicipi kopi dan lihat situasi di warung itu, karena biasanya orang Aceh suka berkumpul di warung kopi dan bahkan berbisnis (berkantor) di warung kopi,” terangnya.

Dibagian lain, Azhari mengatakan, Aceh memang diberi kesempatan untuk menjalin hubungan dengan luar negeri sebagaimana tercantum dalam UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh.

“Berdasarkan Undang-Undang ini Aceh diberi kesempatan untuk menjalin hubungan langsung dengan Pihak Luar Negeri termasuk dengan Pemerintah Inggris untuk kemajuan Aceh,” ujarnya. (red)