Deputi Litbang BKKBN: Revolusi Industri 4.0 Berpengaruh terhadap Peran Keluarga

SERAHKAN: Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Litbang) BKKBN, Prof. Muhammad Rizal Martua Damanik didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Sahidal Kastri dan wakil ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati (kiri), menyerahkan hadiah kepda pemenang tingkat provinsi IMP/Pembantu Pembina KB Desa di Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Sabtu (13/7/2019). (foto: BKKBN perwakilan Aceh)

REDELONG – Era revolusi industri 4.0 yang sedang dihadapi sekarang, bukan hanya berpengaruh pada sektor teknologi, namun juga berdampak dan berpengaruh terhadap peran keluarga. Untuk itu, perlu diimplementasikan Delapan fungsi keluarga yang kini digaungkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Demikian disampaikan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Litbang) BKKBN, Prof. Muhammad Rizal Martua Damanik, pada acara puncak Peringatan Pekan Inovasi Pemberdayaan Masyarakat Gampong/Desa (PIPMG), Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-47 dan Harganas ke-26 tingkat provinsi Aceh di Desa Bale Atu, Kecamatan Bukit, Bener Meriah, Sabtu (13/7/2019).

“Kehadiran revolusi industry 4.0 turut memberikan dampak pada perubahan lingkungan strategis yang mempengaruhi peran keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan dalam menumbuhkan karakter bangsa. Era industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam kehidupan manusia mulai dari urusan pribadi hingga bangsa,” ujarnya.

Muhammad Rizal mengatakan, revolusi era modern sekarang menjadi harapan sekaligus tantangan keluarga Indonesia. Kemajuan teknologi informasi, katanya, beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi secara struktural maupun kultural. “Industri generasi keempat ini telah mendistrupsi perilaku individu bahkan institusi secara kolektif,” katanya.

Kegiatan tingkat provinsi ini dihadiri ribuan peserta. Sebelum kegiatan puncak, BKKBN sebagai salah satu instansi penyelenggara, juga mengadakan jalan santai dan senam lansia (Lanjut Usia) sehari sebelum acara puncak.

Lebih lanjut, Muhammad Rizal mengatakan, kini perubahan lingkungan strategis terjadi dengan cepat, dimana suatu hal yang dipandang baik bagi kehidupan keluarga pada beberapa decade yang lalu, belum tentu dapat diterima.

Apalagi, katanya, dengan gaya hidup yang makin modern dan kesibukan orang tua yang senakin meningkat, sehingga akan berdampak pada tatanan kehidupan keluarga. “Misalnya, waktu berkumpul dengan keluarga secara kualitas mulai terasa terabaikan,” ujarnya.

Selain itu, terjadi kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak, karena terbatasnya waktu untuk mendengarkan keluh kesah atau problematika terutama pada anak remaja. Selanjutnya, keluarga sering tidak tanggap atau kurang peduli dengan kejadian di lingkugan sekitarnya. “Budaya gotong royong antar warga masyarakat juga bisa dikatakan hampir luntur,” tegasnya.

Peringatan Harganas ke-26 tahun ini mengambil tema ‘Hari Keluarga, Hari Kita Semua’ dan slogan ‘Cinta Keluarga, Cinta Terancana’. Muhammad Rizal berharap, tema dan slogan tersebut, dapat menjadi omentum dan pemacu keluarga Indonesia untuk berupaya meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, sehingga menghasilkan generasi berkualitas.

“Peringatan Harganas tahun ini masih sama dengan sebelumnya karena mengedepankan keikutsertaan keluarga dan mencerminkan penerapan 4 pendekatan ketahanan keluarga yaitu Keluarga berkumpul (reuniting), keluarga berinteraksi (interaction), keluarga berdaya (empowering), dan keluarga peduli dan berbagi (sharing and caring),” jelasnya.

Salah satu kegiatan yang digalakkan dalam momentum Harganas ke-26 tahun ini, katanya, adalah ‘Gerakan kembali ke meja makan’ dan ‘Gerakan tidak melihat media social dan TV pada jam 18.00-21.00 atau Gerakan 1821’.

Maksud tidak melihat media sosial dan TV mulai jam 6 sore sampai jam 9 malam itu, kata Muhammad Rizal, bertujuan agar anggota keluarga secara bersama-sama melakukan aktivitas yang mengarah pada nuansa kebersamaan.

“Misalnya, yang muslim menjalankan salat berjamaah, mengaji dilanjutkan makan malam bersama, belajar atau berdiskusi antar anggota keluarga, yang diharapkan dapat mendekatkan dan meningkatkan kembali interaksi antara anggota keluarga, dan akan mewujudkan terciptanya ketahanan keluarga,” ujarnya.

Dia menegaskan, gerakan tersebut sudah dicoba, dibudayakan dan dilaksanakan di Kota Padang, Sumatera Barat. “Insya Allah pada tahun 2020 kota Padang Sumatera Barat menjadi tuan rumah Harganas ke-27 Tingkat Nasional,” ungkapnya.

Fungsi Keluarga

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Muhammad Rizal juga mengajak masyarakat untuk mengimplementasikan Delapan fungsi keluarga. Adapun fungsi dimaksud diantaranya fungsi Agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pendidikan, reproduksi, sosial budaya dan fungsi lingkungan.

“Melalui Delapan fungsi keluarga itulah diharapkan setiap keluarga mengetahui, memahami dan melaksanakan. Setiap fungsi tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan,” katanya.

Bila diimplementasikan, katanya, niscaya akan tumbuh anak bangsa Indonesia yang memiliki karakter kuat dan kepribadian terpuji apalagi dalam situasi dan kondisi yang serba transparan saat ini.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Sahidal Kastri, para bupati dan walikota, wakil ketua PKK Aceh, Dyah Ertiga Idawati, para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan unsur terkait lainnya.

Diakhir acara, sejumlah pejabat termasuk Plt. Gubernur dan Deputi BKKBN menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba KB Lestari 15 Tahun, lomba IMP/Pembantu Pbina KB Desa, juara inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) dan pemenang Lomba Gampong tingkat provinsi.

Sementara, Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengatakan telah terjalin hubungan sinergi yang sangat kuat antara BKKBN dengan Kementerian Desa. Dikatakannya, bila program kedua instansi tersebut berjalan, maka program KB akan sukses.

“Kalau program berjalan, maka rakyat di desa sibuk, di kecamatan, kabupaten dan seterusnya sibuk, punya aktifitas, maka program Keluarga Berencana akan sukses,” kata Nova seraya berharap dengan kuatnya sinergi BKKBN dan Kementerian Desa, maka perlu juga dipahami dan diikuti jajaran dibawahnya.

Sebelumnya, Kepala BKKBN Aceh, Sahidal Kastri mengharapkan, dengan keterlibatan BKKBN Aceh pada kegiatan besar Pemerintah Aceh tersebut, maka program Kependudukan, Keluarga Bersama, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) bisa tersosialisasikan dengan baik. “Bukan saja kepada masyarakat tetapi juga kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Daerah,” ujarnya. (red)