Kepala BKKBN RI Jadi Pembicara Pada Seminar Nasional UIN Ar-Raniry

Kepala BKKBN RI Dr. dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K) menjelaskan tentang Stunting saat menjadi pembicara pada seminar nasional di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (9/10/2019).

BANDA ACEH – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Dr. dr. Hasto Wardoyo, SP.OG (K) menjadi pembicara pada seminar nasional yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh bekerja sama dengan BKKBN di Auditorium UIN Ar-Raniry, Rabu (9/10/2019). Dia menegaskan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan keluarga yang sejahtera, diperlukan pencegahan stunting.

“Stunting adalah suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan usianya. Atau mudahnya, stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan tubuhnya lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya,” jelas Hasto.

Seminar Nasional tersebut dalam rangka kegiatan Ar-Raniry Creative Fair 2019 dengan tema ‘Membangun Keluarga Sejahtera dan Pencegahan Stunting’. Selain Hasto, turut menjadi narasumber yakni Tim Stunting Aceh Alfridsyah A. Md. Gizi. SKM, M. Kes. KP. Kesmas, dan Pemerhati Sosial, Cahyono Cahya Angkasa, S.IP, SH, MH.

Hasto Wardoyo menjadi Keynote Speaker pada seminar yang juga dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Drs. Sahidal Kastri M.Pd dan seratusan lebih mahasiswa itu. Seminar ini dibuka Rektor UIN Ar – Raniry, Rektor Prof. Dr. Warul Walidin AK. MA

Lebih lanjut Hasto menjelaskan tentang konsep membangun keluarga sejahtera dan pencegahan stunting. Dia menyebutkan, secara statistik, Indonesia menjadi penyandang stunting dengan angka 30,8 persen dari sebelumnya 37,2 persen.

Sedangkan standar World Health Organization (WHO) berada pada 20 persen. Sehingga Indonesia dianggap cukup tinggi untuk tingkat stunting. Bahkan, Aceh berada pada posisi tiga secara nasional dengan penyandang stunting, mencapai 37,3 persen.

Disebutkannya, tugas BKKBN dalam hal pencegahan stunting, khususnya di Aceh yaitu antara lain mengatur tentang kependudukan, agar dapat memperhatikan kualitas SDM untuk meningkatkan masyarakat yang unggul.

Selain itu, BKKBN juga harus bisa memperhatikan tiga pilar program kerjanya yaitu Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) yang di dalamnya terdapat subtansi programnya yaitu kesehatan reproduksi serta memperhatikan pola asuh, asih, dan asuh di dalam pembangunan keluarga.

Oleh sebab itu, kata mantan Bupati Kulon Progo, Yogyakarta dua periode ini, untuk meningkatkan SDM dan juga keluarga yang sejahtera, diperlukan pencegahan stunting, pencegahan ini juga dilihat dari kesehatan reproduksi.

“Bahwa perlu kita ketahui bersama, tidak semua yang bertumbuh pendek stunting tetapi setiap yg stunting pasti pendek,” kata Hasto yang disambut teput tangan oleh peserta.

Lanjutnya, angka stunting tinggi salah satu penyebabnya, banyak terjadi pernikahan pada usia anak, bahkan yang lebih parah terjadi pada anak yang lahir dari kehamilan di luar nikah.

“Itulah sebabnya harus menjaga jarak dengan lawan jenis, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, jika sampai terjadi kehamilan di luar nikah, maka dengan mudah stunting ini juga terjadi,” kata Hasto.

Dokter teladan dan peraih penghargaan Satya Lencana Bidang KB 2010 dari Presiden RI menegaskan, stunting tidak hanya menghambat perkembangan tubuh saja, juga sangat berpengaruh pada perkembangan otak anak. Kasus stunting selain dipengaruhi oleh kesehatan reproduksi, juga disebabkan pola asah, asih, dan asuh dari orangtua.

“Saya mengajak kepada semua pihak untuk memahami tentang stunting, sehingga semua masyarakat dapat mencegahnya. BKKBN menyampaikan apresiasi kepada UIN Ar-Raniry yang telah peduli terhadap kasus tersebut, pendampingan dapat dilakukan dengan berbagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan tri dharma perguruan tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Warul Walidin AK, MA mengatakan, UIN Ar-Raniry telah mengambil penting dalam menangani kasus stanting, khususnya yang terjadi di Aceh. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan kajian, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“UIN Ar-Raniry telah menerapkan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) tematik sejak beberapa tahun lalu, dan pada 2019 ini KPM UIN Ar-Raniry mengangkat tema tentang stunting dan telah berlangsung di kabupaten bener Meriah,” ujarnya.

Rektor menambahkan, UIN Ar-Raniry telah melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga baik pemerintah maupun swasta untuk memberikan pembekalan kepada calon peserta KPM yang akan ditempatkan di gampong-gampong, khusus tentang stunting bekerja sama dengan Pemerintah kabupaten kota dan Dinas terkait serta LSM Kompak, seperti di Bener Meriah beberapa waktu lalu.

Kedepan kata Warul, UIN Ar-Raniry akan terus meingkatkan kerja sama dengan pihak BKKBN dalam hal membangun keluarga sejahtera dan pencegahan stunting bagi masyarakat Aceh. (rel/b)