Hasan Gayo dan Pengambilalihan Aset Kereta Api dari Tangan Jepang

Analisisnews.com/Junaidi.
Daud Gayo (82 thn) memperkenalkan bukunya kepada istri Plt. Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati bersama rombongan dari Aceh.
Buku yang memuat riwayat dan sepak terjang Muhammad Hasan Gayo. Ditulis oleh Drs. M. Daud Gayo. Diterbitkan Bandar Publishing, 2018.

JAKARTA – Atas nama  Angkatan Pemuda Indonesia (API), pada  3 September 1945, Muhammad Hasan Gayo, memimpin pengambilalihan aset dan manajemen perusahaan Kereta Api di Jakarta dan Bengkel Besarnya di Manggarai. Tentara Jepang yang menjaga Perusahaan Kereta Api menyerah tanpa perlawanan dan semua gerbong ditempeli “Milik RI.” 

Dampak dari pengambilalihan perusahaan kereta api di Jakarta, akhirnya seluruh  stasiun kereta api di Pulau Jawa diambil alih oleh pejuang rakyat Indonesia.

Kisah heroik inilah yang diungkapkan dalam buku “Keterlibatan Haji Muhammad Hasan Gayo, Pejuang Nasional Dataran Tinggi Gayo, dalam  Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia 1923-1993,” ditulis oleh Drs. Muhammad Daud Gayo, mantan staf pribadi Menteri Luar Negeri Adam Malik. Buku ini diterbitkan Bandar Publishing Banda Aceh, 2018, tebal 268 halaman.

Dikisahkan dalam buku tersebut,  pengambilalihan alihan aset kereta api mula-mula dilakukan  di Stasiun Kota Bios Jakarta. Esoknya, pengambilalihan dilakukan di Stasiun Kereta Api Kota dan siangnya Stasiun Kereta Api Manggarai, berikut bengkel besarnya.  Sejak itulah, pengambilalihan alihan seluruh aset kereta api dilakukan di seluruh Jawa.

Pada masa itu, Kereta Api rupanya punya peralatan mesin cetak yang dioperasikan di lantai bawah Stasiun Kota. Hasan Gayo kemudian diserahi tugas  mengawasi percetakan Kereta Api di Stasiun Kota dan menerbitkan majalah “Suara Kereta Api” dimana Hasan Gayo sendiri sebagai pemimpin redaksinya. Ia juga dipercaya  menjadi pemimpin Pemuda Kereta Api.

Belakangan, mesin cetak milik kereta api itu diambil oleh BM Diah, yang kemudian digunakan untuk menerbitkan harian Merdeka. Sebagai imbalannya, semua pamflet  Komite van Actie –organisasi pergerakan dibentuk oleh Grup Pemuda Radikal setelah Proklamasi, tempat Hasan Gayo bergabung —dicetakkan oleh BM Diah.

Buku “Keterlibatan Haji Muhammad Hasan Gayo, Pejuang Nasional Dataran Tinggi Gayo, dalam  Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia 1923-1993,” ini

akan dibedah secara khusus di Perpustakaan Nasional pada 15 Maret 2002 mendatang. Bedah buku diselenggarakan oleh Ikatan Musara Gayo Jakarta dan Taman Iskandar Muda Jakarta. 

Siapakah Muhammad Hasan Gayo? Ia lahir di Kampung Lukup, Kecamatan Pegasing pada 1923. Menjalani pendidikan  sekolah dasar Belanda di Takengon, dan lulus Sekolah Normal Islam di Bireuen. Sekolah ini didirikan oleh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA).

Berangkat ke Jakarta melalui jalan darat pada November 1942, atau tujuh bulan setelah Jepang menjejakkan kaki di Aceh. Hasan Gayo mendaftar di Perguruan Tinggi Islam Jakarta, pimpinan Prof. Kahar Muzakkir.  Di Jakarta, Hasan Gayo bergabung dengan mahasiswa dan pemuda pergerakan anti penjajah Jepang. Grup ini belakangan diberi nama “Grup Pemuda Radikal” pimpinan Chaerul Saleh, bermarkas di Menteng 31 atau Gedung Juang 45 sekarang. Dalam grup inilah Hasan Gayo memperoleh pendidikan politik yang diberikan tokoh-tokoh hebat; Ir. Soekarno, Mohd. Hatta, Mr. Iwa Kusuma Sumantri, Mr Sunario, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. Suwandi dan lain-lain.

Grup “Pemuda Radikal” ini yang mendesak Soekarno segera menyatakan kemerdekaan Indonesia segera setelah Jepang kalah dari Sekutu. Tapi Soekarno menolak dan harus membawanya terlebih dahulu dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Tapi grup “Pemuda Radikal” yang di dalamnya aktif Hasan Gayo, Sukarni, Chaerul Saleh dan lain-lain menolak ide Soekarno. Sebab menurut mereka PPKI adalah lembaga  dipengaruhi Jepang, dan grup ini tidak percaya kepada Jepang. 

Pemuda Radikal lalu memilih jalan “radikal” dengan “mengungsikan” Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Baru esoknya, 17 Agustus 1945, Soekarno -Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur. Muhammad Hasan Gayo terlibat aktif dalam seluruh pertemuan rapat “Grup Pemuda Radikal” termasuk pada saat  memutuskan “mengungsikan” Soekarno ke luar kota.

Setelah Proklamasi, Grup Pemuda Radikal pimpinan Chaerul Saleh dari Menteng 31 ini, membentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Laskar Rakyat untuk melucuti tentara Jepang. Saat itu, API lah yang menjaga keamanan Jakarta, yang mengambil alih aset dan manajemen kereta api yang dikuasai Jepang.

Ketika Sekutu masuk Jakarta, dan dengan licik   NICA ikut membonceng, API yang telah mempersenjatai diri membentuk Laskar Rakyat. NICA atau disebut dengan Nederlandsch IndiĆ« Civiele Administratie atau Netherlands-Indies Civiele Administration, adalah “Pemerintahan Sipil Hindia Belanda”  merupakan organisasi semi militer, dibentuk pada 3 April 1944 bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda selepas kapitulasi pasukan pendudukan Jepang di wilayah Hindia Belanda seusai Perang Dunia II (1939 – 1945).

Hasan Gayo lalu bergabung dengan Laskar Rakyat menentang kehadiran sekutu dan bergerilya di Jawa Barat dan Jawa Tengah bersama Chaerul Saleh. Hasan Gayo diangkat jadi salah seorang komandan dalam laskar tersebut yang terkenal dengan sebutan “Komandan Bambu Runcing.”

Dalam rangka menyatukan tekad melawan NICA pada 1 November  1945, HM. Hasan Gayo bersama T. Syarief Thajeb dan Arifin Tamiang mewakili pemuda Aceh menghadiri Badan Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta, dan Chaerul Saleh terpilih sebagai Ketua dan HM Hasan Gayo bertugas di sekretariatnya.

Hasan Gayo baru turun dari bergerilya selepas penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1945. 

Ia lalu memilih sebagai  wartawan surat kabar Indonesia Raya. Tapi tidak lama. Ia lalu mendirikan surat kabar “Suluh Indonesia”  bersama Satya Graha dan Sayuti Malik. Surat kabar ini corong dari PNI. Sebelumnya saat aktif bergerilya, Hasan Gayo menjadi pimpinan redaksi  “Godam Jelata” diterbitkan di Cirebon, dan wartawan harian “Genderung” juga terbit di Cirebon. Ia juga pernah membantu penerbitan majalah pertama di zaman Indonesia merdeka  dalam bahasa Inggris “Voice of Free Indonesia.”

Hasan Gayo diangkat sebagai Anggota MPRS 1960-1967 oleh Presiden Soekarno sebagai utusan golongan dan merangkap sebagai anggota Badan Pembantu Pimpinan (BPP) MPRS. Ketika itu Ketua MPRS adalah Chaerul Saleh, teman akrab Hasan Gayo sejak di “Grup Pemuda Radikal”  di Menteng 31. 

Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan No: 744/VI/1982 tanggal 26 Juni 1982, menganugerahkan “Gelar  Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia” pada 1982 kepada Muhammad Hasan Gayo. Ia meninggal dunia 1993.

Buku ini juga menceritakan, bahwa Hasan Gayo saat di Jakarta, pernah tinggal di rumah Mudigdo, pegawai  yang bekerja di Domei, kantor berita Jepang. Ia tinggal di rumah itu bersama Tgk Ilyas Leube, pemuda Gayo yang juga hijrah ke Jakarta.   Adam Malik juga bekerja di Domei. Di sinilah Hasan Gayo dan Adam Malik berkenalan. Domei adalah peralihan Kantor Berita Antara pada saat Jepang datang ke Indonesia. Antara didirikan oleh Adam Malik bersama Sumanang, Sipahutar dan lain-lain.

Nama Muhammad Hasan Gayo saat ini ditabalkan menjadi nama lapangan pacuan kuda Belang Bebangka Aceh Tengah. Hasan Gayo juga punya perhatian besar terhadap kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kampung halamannya, Tanah Gayo. Ia menggagasi berdirinya Asrama Mahasiswa Lut Tawar di Jalan Muria Jakarta dan Yogyakarta. Ia juga ikut mengusahakan berdirinya STM Pertanian di Aceh Tengah dan Universitas Gajah Putih Takengon. Hasan Gayo menulis buku “Perang Gayo Alas Melawan Kolonialis Belanda” diterbitkan Balai Pustaka. Buku ini salah satu rujukan penting perjuangan rakyat Gayo Alas menentang penjajahan Belanda.  

“Beliau, Hasan Gayo, sosok yang luar biasa. Tapi tidak banyak publikasi mengenai sosok ini,” kata Penanggungjawab Redaksi Bandar Publishing, Mukhlissuddin Ilyas yang menyunting  buku tersebut dalam satu kesempatan di Mes Aceh Jakarta.

“Mantan Staf Pribadi Adam Malik”

Buku berisi kisah perjuangan Muhammad Hasan Gayo itu, ditulis oleh Muhammad Daud Gayo, kini berusia 82 tahun. Daud Gayo  pernah jadi staf pribadi Adam Malik.

Daud Gayo merasa perlu mengerahkan seluruh energi dan kemampuannya untuk menampilkan tokoh Hasan Gayo,  sebab tidak banyak buku yang mengulas riwayat hidup dan peran Hasan Gayo dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Termasuk memimpin pengambilalihan aset kereta api dari tangan Jepang.

“Selain itu, kebetulan saya kenal dekat dengan beliau,” kata Daud Gayo. Ia ingin, generasi muda Indonesia, khususnya dari Gayo, Provinsi Aceh termotivasi atas peran dan sepak terjang Hasan Gayo dalam memajukan bangsa.

Daud Gayo, sebelumnya pernah menulis buku tentang ulama asal Gayo, yang berkiprah di Sumatera Utara, Tgk A. Latief Rousdy pada 2011.

Menurutnya, masih banyak tokoh-tokoh asal Gayo yang perlu ditulis dan ia mempersilakan generasi muda melanjutkannya.

Muhammad Daud Gayo Iahir  di Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah 1938. Menjalani pendidikan  dasar di kota kelahirannya, dan hijrah ke Jakarta melanjutkan SMA, lulus lulus SMA IV/C Negeri di Jl. Batu Jakarta tahun 1958. Daud Gayo lalu ikut seleksi penerimaan mahasiswa dan diterima di Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi. Ia kemudian keluar dari kampus,  memilih bekerja di Bank Industri Negara (BIN) 1958.

Setahun kemudian, ia terbang ke Moskow, melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi di Moscow State University, setelah mendapat program beasiswa dari Pemerintah Indonesia.

Daud Gayo aktif dalam kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Uni Soviet dan Eropa. Pada 1963 Daud Gayo terpilih sebagai Ketua Badan Pekerja Badan Koordinasi PPI se Eropa periode1963-1965.

Ketika terjadi peristiwa G30 S PKI 1965, mahasiswa Indonesia di Soviet ikut bergolak. Daud Gayo dan mahasiswa pancasilais lainnya lalu membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa di Uni Soviet (KAMUS) menuntut pembersihan KBRI Moscow dari antek-antek PKI. Tuntutan KAMUS mendapat respon positif dari Adam Malik, Menteri Luar Negeri RI ketika itu.

Akibat gerakan itu Daud Gayo dipersona nongratakan oleh Pemerintah Soviet dan harus meninggalkan negara itu dalam 3×24 jam.

Kembali ke Indonesia,  oleh Menlu Adam Malik lalu mengangkat Daud Gayo sebagai staf pribadi, bertugas menyalurkan kembali  mahasiswa pancasilais yang terusir dari Soviet ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hubungan Daud dengan Menlu Adam Malik sangat dekat. Pada 1968, Daud diminta mewakili Menlu menyampaikan pidato dalam Sidang Dewan Pimpinan PPI se Eropa di London.

Tahun berikutnya, 1969, Daud melanjutkan kuliah di Universitas Beograd, Yugoslavia, Fakultas Ekonomi. Lulus 1973.

Pulang ke Indonesia, bekerja di PT Krakatau Steel pada 1976. Ia menghabiskan karir di perusahaan BUMN tersebut sampai pensiun.

Pada 2003-2005, Daud Gayo, diminta mengawasi Rumah Sakit  Mekar Sari, milik Yayasan Mekar Sari yang diketuai Nelly Adam Malik. Di sela-sela tugas itu, Daud Gayo, menyelesaikan buku biografi ulama dan tokoh Gayo di Sumatera Utara Tgk Latief Rusydi.

Daud Gayo merasa lega setelah ia merampungkan buku tentang Hasan Gayo. Dan ia akan lebih lega, apabila Hasan Gayo berhasil diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

 “Kita sampaikan agar Hasan Gayo jadi Pahlawan Nasional, mengingat besarnya peran dan keterlibatannya dalam  perjuangan kemerdekaan Indonesia,” kata Daud Gayo.(*)

Judul Buku:

“Keterlibatan Haji Muhammad Hasan Gayo, Pejuang Nasional Dataran Tinggi Gayo, dalam  Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia 1923-1993.”

Penulis  : Drs. Muhammad Daud Gayo.

Penerbit:  Bandar Publishing, 2018

Tebal      : 268 Halaman