Harga Kopi Anjlok, Ini Kata Kurniawan Untuk Pemkab Bener Meriah

Analisisnews.com.
Kurniawan , Tengah , diapit dua temannya usai kegiatan. Alumni Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Jum’at (10/4/2020)

BENER MERIAH- Berkaitan dengan pandemi Covid-19 membuat harga hasil pertanian di Indonesia khususnya di Bener Meriah menurun salah satunya harga kopi. 

Kurniawan, seorang alumni Hukum Unsyiah Banda Aceh memberikan pendapat dan masukan terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat petani kopi Bener Meriah. Dalam hal ini, ia mencoba memberikan pandangannya dalam Persfektif Hukum, Sosial dan Sosiologi Pertanian.

Beberapa waktu lalu, kata Kurniawan, Bupati Bener Meriah Sarkawi berencana mengaktifkan resi gudang yang menurutnya kurang tepat. Menurutnya, sebagian petani di Kabupaten Kopi Bener Meriah bukan semuanya sebagai petani kopi melainkan juga menanam tanaman muda lainnya seperti tanaman Palawija yang tidak termasuk kedalam golongan barang dalam sistem resi gudang.

“Maka resi gudang hanya akan menyelamatkan perusahaan pertanian bukan usaha tani secara luas di Bener Meriah. Lagi pula untuk saat ini yang dibutuhkan petani adalah uang bukan resi gudang dadakan yang bahkan sebagian petani juga baru mengenal dengan sistem resi gudang ini,” kata Kurniawan, kepada media ini, Jum’at (10/4/2020).

Untuk itu, kata Kurniawan, Pemerintah Bener Meriah harus segera mengambil tindakan dengan mengambil upaya nyata dalam membantu petani menghadapi permasalahan kesulitan, kepastian usaha tani, risiko harga, dan praktik ekonomi biaya tinggi.

Ia melanjutkan, Bila mengacu dan melihat Undang-Undang No. 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Petani, terdapat beberapa langkah yang bisa diambil oleh Pemerintah Bener Meriah  sesuai dengan kewenangannya. 

“Saya menyarankan pemerintah memberikan jaminan pemasaran hasil pertanian kepada petani yang melaksakan usaha tani. Jaminan pemasaran ini merupakan hak petani untuk mendapatkan penghasilan yang lebih menguntungkan,” tandasnya.

Jaminan pemasaran yang saya maksud lanjutnya, dapat dilakukan melalui pembelian secara langsung hasil pertanian, penampungan hasil usaha tani, atau bisa saja melakukan pemberian fasilitas akses pasar.

Menurutnya hal ini dapat dilakukan sebagai upaya nyata membantu petani yang mengeluhkan turunnya harga hasil panen dikondisi seperti ini apalagi ditengah pamdemi Covid-19.

Lebih lanjut, jika dilihat dari harapan petani kopi Bener Meriah pada intinya petani membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Seperti diketahui, petani kopi di Bener Meriah merupakan pertanian rakyat bukan perusahaan pertanian. 

“Petani di Bener Meriah melakukan usaha tani sebagai pertanian keluarga yang ciri utamanya adalah berskala kecil dan untuk kepentingan keluarga tersebut. Kita berharap Pemerintah Bener Meriah segera mengambil tidakan.” Tutup Kurniawan. (Jun)