Cat Ulang, Menasah Adi Genali Pernah Menjadi Penentuan Awal Kiblat di Gayo

Analisisnews.com, Menasah (Mersah, Gayo_red) Adi Genali di desa Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

TAKENGON-Menasah (Mersah-Gayo_red) Adi Genali kampung Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah dilakukan pengecatan ulang oleh pengurus menasah bersama sebagian masyarakat setempat beberapa waktu lalu, setelah menerima donasi dari Pengurus Ikatan Musara Gayo Jabodetabek.

Kholil, salah satu pengurus menasah Adi Genali mengucapkan terimakasih banyak kepada segenab keluarga besar Musara Gayo yang telah membantu memberikan donasi, yang kemudian dimanfaatkan untuk pengengecatan menasah ini.

“Terimakasih banyak dari Bapak, Abang, saudaraku di rantau yang telah memberikan sumbangan untuk menasah Muyang Endatu kita. Mudah-mudahan dengan keikhlasannya diberikan keberkahan dalam hidup kita, Amin Allahumma Amin,” kata Kholil kepada analisisnews.com, Selasa (14/4/2020).

Informasi yang diterima media ini, bahwa pengurus Menasah Adi Genali benar telah menerima donasi dari pengurus Ikatan Musara Gayo Jabodetabek pada tanggal 6 April 2020 yang lalu.

Sementara itu Sekretaris Umum Ikatan Musara Gayo Jabodetabek, Yusradi Usman al-Gayoni menambahkan, tersalurnya donasi tersebut kepada pengurus menasah Adi Genali berawal dari keluarga besar warga Gayo Jabodetabek yang pulang ke kampung halaman di Takengon, kemudian mengunjungi situs-situs bersejarah di kecamatan Linge termasuk Menasah Adi Genali di kampung Linge tersebut.

Ia menerangkan, Adi Genali yang menjadi nama menasah tersebut merupakan nama raja pertama dari Kerajaan Linge (Lingga) yang merupakan salah satu kerajaan tertua di Aceh, berdiri tahun 1025 masehi. 

Salah satu putra Reje Linge Adi Genali, sambungnya, Merah Johan yang bersama gurunya Syeh Abdullah Kan’an mendirikan Kesultanan Aceh Darussalam pada  tahun 1205 masehi, sekaligus Merah Johan dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam.

“Saat warga kita tadi bertemu dengan pengurus Menasah Adi Genali, mereka mengharapkan bantuan donasi dari Musara Gayo untuk pengecatan  menasah. Sepulangnya dari Takengon, langsung disampaikan ke beberapa pengurus dan alhamdulillah terkumpul 2 juta, tambah 500 ribu dari salah satu warga. Tanggal 6/4 yang lalu, langsung ditransfer ke pengurus menasah,” tutur Yusradi. 

Hal tersebut, sambungnya, merupakan bentuk kepedulian dan partisifasi Ikatan Musara Gayo Jabodetabek dan masyarakat Gayo perantauan terhadap Tanoh Tembuni, Tanoh Gayo. Apalagi, Menasah Adi Genali merupakan situs bersejarah di Gayo.

Menurut penuturan masyarakat setempat, menasah inilah yang pertama di Linge (Gayo). Termasuk, penentuan awal arah kiblat salat di Gayo (Aceh) bermula dari menasah tadi. Ternyata, sesuai dengan arah kiblat. 

“Padahal, waktu itu, belum ada teknologi seperti sekarang. Karenanya, disebut menasah awal munyang datu (menasah pertama munyang datunya orang Gayo),” kata Yusradi. (Jun)