Masyarakat Harapkan Harga Kopi Stabil

Analisisnews.com
Kopi Merah (gelondong) yang siap panen.
Lokasi kebun di Pepantang, Kecamatan Bukit. Minggu (19/4/2020)

REDELONG – Setelah mewabahnya Virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya di Aceh, membuat harga jual hasil petani melonjak turun seperti harga kopi di dataran tinggi Gayo.

Sukri, warga kampung Nosar Baru, Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener Meriah mengharapkan kepada Pemerintah daerah, agar bisa mencari solusi tepat untuk menstabilkan harga kopi seperti biasanya. Menurutnya, semakin hari harga kopi terus menurun dari harga sebelumnya.

“Kami para masyarakat khususnya petani kopi, tolonglah pertahankan harga kopi sebelumnya yang saat ini sudah merosot. Agar petani kita tidak menjerit apalagi bersamaan dengan melonjaknya barang pangan saat ini,” kata Sukri, kepada analisisnews.com melalui WhatsApp. Minggu (19/4/2020).

Lebih lanjut ia mengamati, pemerintah Bener Meriah seperti kurang memperhatikan masyarakat kecil sebagai petani kopi. Untuk itu, Sukri sebagai perwakilan petani kopi meminta kepada pemerintah untuk menindaklanjutinya lebih lanjut dan tepat dengan penuh harap.

“Seperti saya lihat, semuanya sekarang fokus hanya ke Covid-19 saja. Memang perlu untuk antisipasi, namun tidak lupa pula pada keadaan harga kopi sekarang. Harga pangan kian lemah kondisinya, harga tani ini pun semakin merosot ke bawah. Apakah ini tidak ada tindak lanjutnya dari pemerintah,”terang Sukri dengan nada mempertanyakannya.

Selain itu, Sukri merasa bingung akan fungsi sebenarnya dari resi gudang yang sempat dibicarakan oleh pemerintah. Apakah hanya sekedar dibangun dan dibiarkan saja, ini yang membuat tanda tanya katanya.

Tidak hanya kepada Pemerintah Eksekutif saja harapan tersebut disampaikan, Sukri juga menyentuh harapan tersebut kepada pemerintah legislatif atau wakil rakyat agar ikut andil menindak lanjuti harga kopi ini. 

“Kami berharap, tindak lanjut dari para wakil rakyat di DPR. Jangan hanya pada waktu pemilihan saja menyampaikan kata-kata manis, namun perlu berkata manis juga dalam hal seperti ini, yaitu menangani keluh kesah masyarakat,” tegasnya.

Dari fenomena ini, secara terpisah, analisisnews.com mencoba mendalami mengenai harga kopi dan resi gudang ini kepada seorang toke di Kecamatan Bukit Bener Meriah. Ia membenarkan harga kopi memang terus menurun dari sebelumnya. 

Selain itu, terkait pemanfaatan resi gudang yang dikucurkan oleh Pemerintah Kabupaten Bener Meriah juga membenarkan bagian dari solusi yang baik. Namun, katanya, tidak semua toke memanfaatkan jasa tersebut, melainkan sebagian toke saja.

“Sebagian toke saja yang memanfaatkan resi gudang untuk mengatasi harga kopi kita. Maksudnya, yang mau resi gudang dipersilahkan, sementara yang tidak juga tidak dipermasalahkan,”tegas Pendi.

Ia menambahkan, pemanfaatan resi gudang untuk sebagian toke merupakan jalan yang tepat membeli kopi masyarakat. Sementara sebagian toke lagi, bagi mereka resi gudang merupakan jalan kedua. (Jun)