Di Abdya Harga Daging Kerbau Capai Rp.200 Ribu Per kg

analisisnews.com/agus: MEUGANG: Pedagang dadakan menjual daging kerbau segar di hari meugang jelang Ramadhan 1441 hijriah di Abdya, Rabu (22/4/2020)

BLANGPIDIE-Harga daging kerbau saat meugang (hari punggahan) menyambut puasa Ramadan 1441 hijriah di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencapai Rp.200 ribu per kg. Harga tersebut berdasarkan pantauan wartawan Rabu (22/4/2020) di sejumlah lokasi penjualan daging. Harga tersebut sebanding dengan harga daging pada saat meugang menyambut puasa Ramadan Idul Fitri tahun lalu.

Di beberapa lokasi penjualan daging dalam kabupaten setempat seperti di Kecamatan Manggeng banyak pedagang daging dadakan di hampir setiap sudut pinggir jalan nasional Abdya. Penjual menjajakan daging sejak pagi hingga daging laku terjual. Begitu juga dengan kecamatan lainnya, aktivitas jual beli daging terlihat ramai.

Namun ada juga daging kerbau yang dibandrol dengan harga Rp 180 ribu per kg, dimana harga itu setara dengan harga daging lembu. Harga ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daerah lain di Aceh. Meski harganya meroket, namun antusias pembeli masih tergolong tinggi.

Suparman warga Kecamatan Blangpidie mengatakan, meski pemerintah telah mengeluarkan surat edaran untuk tidak menjual daging di lokasi Krueng Beukah Kecamatan Blangpidie dan Lapangan Seunulop Kecamatan Manggeng, namun aktivitas jual beli daging tetap ramai. Meskipun lapaknya tidak terkumpul dalam satu lokasi, namun antusias warga untuk mendapatkan daging cukup tinggi.

“Rata-rata semua lapak di pinggir jalan hingga dalam perkampungan ramai pembeli. Harga tinggi tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat,” paparnya.

Warga lainnya Ahmad Darmawi mengatakan, ditengah pandemi virus corona (Covid-19) antusias masyarakat membeli daging sangat tinggi. Warga berbondong-bondong untuk mendapat daging segar di pasar dadakan itu. Meski demikian, pasar dadakan tersebut tetap menjaga jarak antara pedagang satu dengan yng lainnya.

“Meugang tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebelumnya pasar daging terfokus pada satu tempat yakni di lapangan dan pinggir pantai. Tapi sekarang justru harus menjaga jarak dan menghindari keramaian,” tuturnya.

Ditambahkan, meugang sendiri yaitu tradisi masyarakat Aceh membeli daging lembu atau kerbau untuk kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga. Tradisi meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Tanah Rencong. Dalam setahun, ada tiga kali meugang yaitu dua atau tiga hari sebelum Ramadan, sehari sebelum lebaran Idul Fitri dan dua hari sebelum lebaran Idul Adha. Pada hari ini, hampir semua masyarakat ikut membeli daging meski harganya melonjak.

Sementara itu Safrial pedagang daging kerbau mengatakan, harga daging yang dijualnya mencapai Rp.200 ribu per kg. Harga itu memang tergolong mahal karena harga kerbau lokal naik menjelang meugang. Diakuinya, daging yang dijualnya serta para pedagang lainnya termasuk kualitas bagus dan telah melalui serangkaian uji kesehatan hewan.

“Ada juga yang menjual dengan harga murah, tapi itu tergantung kualitas dagingnya. Banyak daging kerbau yang dijual murah tapi kualitas daging tidak sama dengan daging kerbau lokal,” pungkasnya.(ag)