Intensitas Hujan Tinggi, Puluhan Hektare Sawah di Abdya Terendam


Foto: analisisnews.com/agus
TERENDAM: Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Abdya dan sekitar, membuat areal persawahan Paya Laot, Desa Lhueng baro, Kecamatan Manggeng terendam air, Jumat (8/5/2020).

BLANGPIDIE-Sekitar puluhan hektare areal persawahan milik petani di Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terendam air. Rendaman itu diakibatkan tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah kabupaten setempat.

Dirman petani setempat Jumat (8/5/2020) mengatakan, guyuran hujan yang dimulai dari pukul 01.00 WIB dini hari hingga pukul 10.00 WIB pagi membuat tanaman padi yang baru ditanami oleh petani terendam. Jika rendaman air berlangsung lama, tentu akan berdampak buruk terhadap tanam padi.

Disebutkan, semua saluran air yang berada dalam areal persawahan tidak sanggup menahan debit air hujan, sehingga terjadi luapan hingga masuk ke dalam sawah dan merendam padi. Areal yang terlihat paling parah terendam air yakni areal persawahan di Paya Laot, Desa Lhueng Baro, Kecamatan Manggeng. Beberapa hektare sawah petani di lokasi itu terendam lantaran sendimen dalam saluran sudah tebal termasuk gorong-gorong saluran yang sudah sempit hingga membuat air meluap.

“Hama keong emas dengan mudah dapat merusak tanaman padi, apalagi tanaman padi ini masih berusia muda,” ujarnya.

Tidaknya hanya tanaman padi yang terendam, benih padi yang masih dipersemaian juga ikut terendam, padahal dalam waktu dekat benih itu akan dicabut untuk ditanam oleh petani setempat. Terendamnya tanaman padi itu bukan hanya kali ini saja, bahkan sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Jika hujan deras mengguyur, petani tidak bisa berbuat banyak. Bahkan petani pernah gagal panen lantaran tanaman padi banyak yang rusak akibat terendam dalam waktu yang lama.  Upaya pemerintah dalam menanggulangi persoalan itu memang sudah pernah dilakukan dengan memperbesar gorong-gorong saluran di Paya Laot. Akan tetapi, upaya itu belum maksimal karena belum juga mengantisipasi luapan air.

“Pernah kami saat musim panen mengangkut hasil panen dengan memakai ban dan perahu, akibat terendam air luapan. Semoga saja pemerintah menindaklanjuti persoalan ini,” tuturnya.(ag)