Penyakit Kresek Serang Tanaman Padi Petani Abdya


Foto: analisisnews.com/agus
PENYAKIT KRESEK: Penyakit kresek atau hawar daun (Bacterial Leaf Blight) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae menyerang tanaman padi milik petani di areal persawahan kawasan Desa Masjid Kecamatan Tangan-Tangan, Abdya Selasa (2/6/2020).

BLANGPIDIE-Penyakit kresek atau hawar daun (Bacterial Leaf Blight) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae menyerang tanaman padi milik petani di areal persawahan kawasan Desa Masjid Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Keujrun Blang (tokoh adat sawah) di wilayah setempat M Yakop, Selasa (2/6/2020) mengatakan, serangan penyakit hawar daun itu telah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Dimana umur padi masih dalam tahap tumbuh kembang. Sejauh ini telah ada sekitar tujuh haktare lebih areal persawahan milik petani yang terkena penyakit dimaksud. Serangan yang hampir merata dibeberapa titik hamparan itu membuat tanaman padi (Oryza sativa) miliki petani terancam gagal panen. Tingkat kesuburan tanaman secara drastis menjadi bekurang. Tanaman padi yang semula subur berwarna hijau kini berubah menjadi kering.

Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek. Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tenaman vegetatif. Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawar (blight). Baik gejala kresek maupun hawar, gejala dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-kelamaan daun menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian bulir padi menjadi tidak sempurna, menyebabkan bulir tidak terisi penuh atau bahkan hampa.

“Petani disini mulai merasa khawatir dengan penyakit dimaksud, mereka takut akan terjadinya gagal panen. Tentu kondisi itu sangat merugikan petani,” ujarnya.

Disebutkan, serangan hawat daun ini bukanlah kali pertami terjadi, bahkan hampir setiap kali musim tanam. Namun, serangan hawar daun kali lebih parah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya, petani dengan mudah bisa mengatasi serangan hawar daun dengan melakukan penyemprotan obat yang bisa didapatkan dari kios-kios pertanian. Untuk kali ini, upaya penyemprotan sepertinya belum membuahkan hasil, bahkan tanaman padi semakin jauh dari tingkat kesuburan.

Akan hal itu, dia dan para petani lainnya telah melaporkan kejadian itu kepada penyuluh atau pengamat hama penyakit (PHP) padi di kawasan setempat. Meski sudah diberi bantuan fungisida, namun serangan hawar daun tersebut masih belum menampakkan tanda-tanda membaik bahkan ada yang sudah parah. 

Fudin petani lainnya mengaku telah berupaya semaksimal mungkin dalam menanggulangi serangan hawar daun itu. Bahkan dia telah berulang kali melakukan penyemprotan namun belum juga berhasil. Dia sangat berharap penyuluh atau pihak dinas terkait bisa turun langsung melihat ke lokasi dan memberikan solusi, sehingga serangan itu tidak meluas ke hamparan yang lain.

“Kami inginkan ada solusi terbaik agar tanaman padi kami kembali pulih. Tidak mesti diberi bantuan obat, beritahu obatnya saja biar kami yang beli. Jika kondisi itu lambat ditangani, dipastikan akan terjadi gagal panen,” pungkasnya.(ag)