YARA Abdya Sarankan Penyidik Terapkan TPPU Dalam Kasus Vina

Sekretaris YARA Perwakilan Abdya, Erisman SH

BLANGPIDIE-Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyarankan Penyidik Satreskrim Polres setempat untuk menerapkan Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam pengembangan kasus penggelapan uang nasabah yang dilakukan oleh Rs alias Vina (26) selaku mantan karyawan kontrak BRI Cabang Blangpidie.

Sekretaris YARA Perwakilan Abdya, Erisman SH Jumat (10/7) mengatakan, penyidik diharapkan juga menerapkan UU TPPU dalam pengembangan kasus penggelapan uang ini. Tujuannya untuk melacak aset dengan pasal 372 dalam hal ini juga diperlukan TPPU. Alasanya, kasus ini nanti akan berhulu pada penyitaan aset. Kemudian juga banyaknya modus yang dilakukan oleh Vina ketika memainkan uang para korban.

Ditambahkan, dari beberapa pengaduan yang berhasil dikutip pihaknya, berbagai macam motif dilakukan oleh pelaku untuk mengelabui korbannya. Artinya, YARA ingin tracking dilakukan bukan hanya mengacu pada satu laporan polisi (LP) saja, tetapi juga mengacu pada laporan korban lainnya. Terlebih deteksi awal, macetnya praktik pengelabuan ini karena pola gali lobang tutup lobang.

Atas dasar itu pihak penyidik perlu menggunakan TPPU untuk menembus batasan dalam pasal 372 tentang tracking asset. Tidak menutup kemungkinan dan patut diduga kalau hasil dari penggelapan tersebut sudah ditempatkan, dialihkan, dibelanjakan dan ditukar, hingga berubah bentuk ke hal yang lain.  Selain itu, persoalan tersebut juga demi keadilan bagi para korban. Pasti tidak cukup dirasakan dengan kepastian hukum saja, tapi juga perlu kemanfaatan hukum agar tidak mati hak korban untuk memperdatakan dikemudian hari. Kemudian juga untuk mempersempit peluang praperadilan pihak ketiga dalam hal penyitaan.

Akan hal itu, YARA Abdya meminta pihak penyidik untuk serius dalam menangani kasus dugaan ini. Pasalnya, masih banyak dugaan-dugaan lain yang dinilai belum terungkap. Apalagi saat ini yang melapor ke polisi juga masih sedikit, padahal nilai nominal uang yang digelapkan pelaku diketahui mencapai Rp.6,3 miliar lebih bedasarkan keterangan polisi

“Kemana uang tersebut dibawa dan kenapa bisa macet. Disinilah perlu kejelasan lebih dalam, sehingga ada rasa keadilan bagi para korban dan kasus ini bisa tuntas,” paparnya.(ag)