Nelayan Tradisional Abdya Panen Udang Rebon


Foto: analisisnews.com/agus
UDANG REBON: Wakil Bupati Abdya Muslizar MT (tengah) ikut membantu nelayan mendorong pukat darat yang telah berisi udang rebon hasil tangkapan di kawasan pasie Gentheng Blang Padang Kecamatan Tangan-Tangan, Minggu (26/7/2020).
 

BLANGPIDIE-Nelayan tradisional di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) seperti di kawasan Desa Blang Padang dan Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan hingga kawasan pesisir pantai Mon Mameh, Kecamatan Setia serta Rubek Meupayong, Ujung Serangga Kecamatan Susoh termasuk dibeberapa lokasi lain beramai-ramai memanen udang rebon.

Karman salah seorang nelayan, Senin (27/7/2020) mengatakan, musimnya undang kecil ini menjadi berkah tersendiri dan dimanfaatkan oleh para nelayan termasuk kalangan masyarakat setempat untuk menjaring udang di perairan dangkal laut. Proses penjaringan udang pun tidak terbilang sulit, bahkan alat tangkap yang digunakan merupakan alat tradisional serta sangat sederhana.

Pada musim baratan, udang kecil yang biasa digunakan sebagai bahan baku utama terasi mendominasi hasil tangkapan nelayan tradisional. Alat tangkap yang digunakan juga sangat sederhana, mulai dari penebaran pukat darat dengan menggunakan perahu yang kemudian dihela ke tepian pantai secara beramai-ramai dan menggunakan jaring yang sebelumnya telah dirakit untuk digunakan nelayan menangkap udang sambil menyelam di balik ombak. Bahkan oleh masyarakat setempat, udang rebon yang masih basah dan segar sengaja dikeringkan untuk dijadikan udang sabu (udang kering). Dimana, udang sabu ini termasuk salah satu lauk yang disukai masyarakat setempat saat menyantap nasi.

“Dalam beberapa hari terakhir udang rebon mendominasi hasil tangkapan. Sebagai nelayan kecil, kami bisa memperoleh keuntungan lumayan. Masyarakat yang memiliki jaring juga ikut berbaur untuk mencari udang,” katanya.

Untuk harga udang rebon, satu keranjang isi tujuh kilogram dibandrol hingga mencapai Rp.200 ribu. Tapi hari ini, sudah turun menjadi Rp.100 per keranjang. Kemudian, ada juga warga yang membeli dengan jumlah banyak untuk dikirim ke Banda Aceh dan Sumatera Utara setelah dikeringkan terlebih dahulu

Muklis nelayan lainnya menambahkan, sejauh ini proses pengeringan udang umumnya mengandalkan panas matahari. Udang rebon hasil tangakapan dari nelayan, oleh para pedagang dijemur di tempat terbuka yang langsung terkena panas matahari. Bahkan nelayan mengeringkan udang dimaksud di halaman rumah. Ada juga yang menjemur udang rebon di pinggir jalan desa dan dipinggir pantai.

Udang rebon ini, memang banyak diburu produsen termasuk warga dari sejumlah daerah, karena kualitasnya bagus. Maka wajar jika pesanan dari perajin terasi terus berdatangan, terkadang dari Medan Sumatera Utara, sehingga nelayan dibuat kewalahan untuk menyediakan udang rebon.

“Udang ini adanya bermusim tepatnya disaat musim barat, jadi persediaannya pun tidak selalu ada. Kalau musimnya usai, udang tersebut juga susah didapat,” paparnya.

Rosi, salah seorang pembeli yang langsung mendatangi lokasi pantai mengaku mendapatkan udang rebon dengan harga yang relatif murah. Karena langsung mendatangi lokasi penjaringan khusus untuk menangkap udang rebon.

“Umumnya banyak nelayan menjaring udang dengan menggunakan pukat darat yang sebelumnya dibentangkan di laut dengan menggunakan perahu. Setelah pukat tuntas dibentangkan, barulah para nelayan beramai-ramai menghela jaring secara perlahan ke daratan hingga lambung pukat sampai ke bibir pantai,” tuturnya.

Menurutnya, membeli udang rebon tersebut lebih baik dengan mendatangi langsung lokasi penjaringan udang, sebab harganya akan lebih murah jika dibandingkan membeli di pasar. Selain itu, pembeli juga dapat melihat secara langsung cara menjaring udang rebon dengan menggunakan alat tradisional, bahkan diberikan kesempatan untuk ikut berbaur saat menarik pukat ke daratan.(ag)