Sejak 2016 Jaringan Irigasi Kuta Paya Rusak Parah


Foto : analisisnews.com/agus
RUSAK PARAH: Keujrun Blang Desa Ujung Tanah Teungku Ramaya, Kecamatan Lembah Sabil Abdya, melihat kondisi jaringan irigasi yang ambruk dan rusak parah akibat hantaman banjir luapan tahun 2016 lalu, Kamis (6/8/2020).

BLANGPIDIE-Jaringan irigasi yang berada di Desa Kuta Paya, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya), rusak para pasca ambruk dihantam banjir luapan sungai sekitar tahun 2016 lalu. Ambruknya jaringan irigasi itu berdampak buruk terhadap puluhan hektar (ha) areal persawahan penduduk di dua Desa yakni Desa Kuta Paya dan Desa Ujung Tanah yang mengalami kekering dan tidak bisa digarap untuk penanaman padi hingga saat ini.

Keuchik Ujung Tanah, Fauzan Adami Kamis (6/8/2020) mengatakan, rusaknya jaringan irigasi itu sejak tahun 2016 lalu, bahkan kondisi itu kerap dikeluhkan petani, namun hingga saat ini belum tanda-tanda dilakukan perbaikan. Warga setempat yang umumnya berprofesi sebagai petani terpaksa mengurungkan niat untuk menggarap sawah mereka. Hal itu dikarenakan, saluran air yang ada di kawasan itu, tidak mampu lagi mengairi areal persawahan penduduk.

“Pasca jaringan irigasi ini ambruk dan rusak parah, warga tidak bisa lagi menggarap sawah mereka. Kondisi ini telah berlangsung sejak 2016 lalu, dan hingga saat ini masih terabaikan,” ujarnya didampingi Keujrun Blang setempat, Teungku Ramaya.

Ditambahkan, untuk mengantisipasi areal persawahan yang kering, agar tidak menjadi lahan tidur, warga setempat terpaksa menjadikan lahan itu untuk berkebun. Sudah beberapa tahun terakhir, lahan basah tersebut dijadikan lahan kering untuk berkebun, karena tidak ada air. Sebagai pengganti padi, warga setempat menanam kacang tanah, jagung dan semangka. Sementara untuk kebutuhan beras, warga setempat harus menunggu masa panen dari desa tetangga. Saat desa tetangga panen, warga di dua desa itu membeli padi dari desa tetangga untuk kebutuhan hidup.

Ironisnya, laporan tentang rusaknya irigasi dimaksud, sudah berulang kali disampaikan ke instansi terkait. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda irigasi itu akan diperbaiki. Padahal mereka sangat berharap irigasi tersebut segera diperbaiki. Terlebih irigasi merupakan satu-satunya irigasi untuk mengairi air ke puluhan hektare areal persawahan.

Sementara itu, Keujrun Blang Teungku Ramaya, sangat menyayangkan kondisi irigasi itu termasuk sikap instansi terkait yang terkesan mengabaikan kebutuhan masyarakat banyak. Hampir 100 persen warga setempat hidup sebagai petani padi. Namun pasca irigasi itu rusak parah, hamparan sawah yang selama ini menjadi penopang hidup, harus dialihkan menjadi lahan kering untuk berkebun. Artinya sejak 2016 lalu, warga setempat harus membeli gabah hasil panen dari desa lain untuk kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini masyarakat sangat berharap irigasi ini bisa diperbaiki, bahkan laporan mengenai irigasi ini telah berulang kali disampaikan, namun tak kunjung diperbaiki. Hal inilah yang sangat kami sayangkan. Harusnya pemerintah peka dengan kondisi seperti ini,” tandasnya.

Akan hal itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, drh Nasruddin secara terpisah kepada wartawan membenarkan jika pihaknya telah menerima laporan terkait kondisi irigasi tersebut. Bahkan, pihaknya bersama dengan tim yang membidangi persoalan irigasi akan turun langsung ke lapangan guna melihat kondisi irigasi sekaligus membuat kajian teknis dan menghitung volume bangunan irigasi untuk segera diusulkan pembangunannya.

“Besok kami akan ke lokasi bersama dengan Kabid Prasarana dan Sarana (PSP), untuk kajian tehnisnya, besar harapan segera terealisasi dan sawah bisa digarap kembali,” singkatnya.(ag)