Ratusan Rumah Warga Abdya Terendam Banjir Luapan


Foto: analisisnews.com/agus
BANJIR: Pemukiman warga di Kecamatan Susoh Abdya terendam banjir luapan akibat tingginya intensitas hujan dan pendangkalan sungai, Senin (31/8/2020) malam.

BLANGPIDIE-Hujan dengan intesitas tinggi yang mengguyur kawasan Aceh Barat Daya (Abdya) dan sekitarnya pada Senin (31/8/2020) dari sore sekitar pukul 15.00-23.30 WIB membuat sejumlah aliran sungai meluap dan merengsek masuk ke pemukiman warga. Akibatnya ratusan rumah di sejumlah desa dalam sembilan kecamatan di kabupaten setempat terendam banjir luapan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Amirudin Selasa (1/9/2020) mengatakan, terdapat ratusan rumah warga yang terendam banjir luapan dan tersebar disejumlah desa dalam sembilan kecamatan di Abdya. Guyuran hujan sejak pukul 15.00 WIB membuat daerah aliran sungai (DAS) termasuk saluran pembuang tidak mampu menampung debit air yang terus bertambah. Namun sekitar pukul 18.00 WIB air luapan bergerak masuk ke pemukiman warga dan merendam ratusan unit rumah. Ketinggian banjir luapan bervariasi mulai dari 20 cm-100 cm lebih.

“Guyuran hujan yang cukup deras sejak pukul 15.00 WIB hingga tengah malam, membuat beberapa sungai meluap dan merendam pemukiman warga,” katanya.

Dampak banjir tersebut membuat sejumlah infrastruktur rusak seperti saluran irigasi, jembatan termasuk juga beberapa perabotan rumah warga yang rusak diterjang air. Beberapa dari infrastruktur yang rusak sempat ditangani malam itu juga secara darurat. Seperti saluran irigasi di Desa Padang Baru, Kecamatan Susoh. Dengan menurunkan satu unit alat berat, saluran itu langsung diperbaiki secara darurat guna melancarkan kembali aliran air. Selain itu arus lalulintas juga macet, lantaran air menggenangi bandan jalan seperti di Kecamatan Susoh dan beberapa titik di Kecamatan Setia serta Tangan-Tangan. Meski air luapan dalam hitungan jam membanjiri rumah warga, namun warga disibukkan dengan upaya pembersihan rumah mereka masing-masing karena menyisakan endapan lumpur yang cukup tebal.

Penyebab terjadinya banjir luapan itu dikarenakan banyaknya pohon yang tumbang ke dalam DAS, ditambah lagi dengan peningkatan sedimen yang membuat DAS semakin dangkal serta tidak mampu menampung debit air jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Ada beberapa sungai di Abdya sudah dangkal dan perlu dilakukan normalisasi. Sebab banyak tumbang ke dalam sungai hingga menghambat laju air. Kami akan melayangkan laporan ke Provinsi dan Pusat untuk segera dilakukan normalisasi di sungai-sungai tersebut,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan, beberapa tebing sungai juga sudah banyak yang longsor akibat digerus arus air. Pepohonan yang dulunya merupakan penahan tebing sungai, justru sudah tumbang ke dasar sungai menyumbat jalur air. Akibat ketidakstabilan arus air terjadilah banjir luapan. Contoh paling parah di Desa Masjid, Drien Jaloe, Padang Kawa dan Pantee Geulumpang, Kecamatan Tangan-Tangan. Penyumbatan mulut muara akibat abrasi juga kerap terjadi, sehingga arus air menjadi tertahan.

“Kami berharap warga tetap waspada dengan kondisi saat ini,” imbuhnya. (ag)