Bangun Keluarga dengan Rencana yang Matang

Kepala BKKBN RI dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) didampingi Kepala Perwakilan BKKBN provinsi Aceh, Drs. Sahidal Kastri, M.Pd mengamati sebuah buku saat berkunjung ke kampus Universitas Teuku Umar Meulaboh pekan lalu. Foto: Humas BKKBN Aceh

MEULABOH – Membangun keluarga merupakan hal penting dalam rangka mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Untuk itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI dr. Hasto Wardoyo, SpOG (K) mengatakan bahwa membangun keluarga diperlukan rencana yang matang.

Hal itu disampaikan Hasto Wardoyo saat berkunjung ke kampus Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Rabu (21/10/2020).
“Kalau berbcara membangun keluarga, yang harus diperhatikan adalah harus sehat. Kita membangun keluarga jangan sampai perceraian meningkat terus,” ujarnya.
Lebih lanjut, kepala BKKBN mengatakan, hal penting lainnya yang harus diperhatikan di kalangan remaja adalah kesehatan reproduksi. Untuk itu, anak usia remaja harus diperhatikan bagaimana persahabatan dan pertemanannya yang sehat.

Selain itu, anak usia remaja dianjurkan berkumpul dengan orang-orang yang baik. Sehingga, dengan pertemanan dan persahabatan yang baik, kehidupannya dapat terencana sampai membangun sebuah keluarga. “Kita hidup harus berencana. Maka slogannya anakmuda, hidup berencana itu keren yang kemudian jadi slogannya BKKBN,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hasto mengatakan, program pembangunan keluarga gencar digalakkan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam program BKKBN yakni pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana atau disingkat dengan Bangga Kencana.

“Keluarga yang tentram, keluarga yang mandiri dan keluarga yang bahagia, itulah intinya. Oleh karena itu, ada kasih sayang dan didiklah anak cucu itu sesuai dengan zamannya, karena dia juga lahir dizamannya,” kata Hasto.

Dalam kunjungannya ke kampus UTU itu, Hasto mengungkapkan, BKKBN sangat ingin sekali dekat dengan pelajar, mahasiswa dan lingkungan kampus. Sebab, BKKBN mengemban amanah untuk bagaimana meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan adalah penurunan angka stunting.

“Oleh karena itu stunting tidak boleh terjadi, jadi harus berkualitas. SDM harus betul, dan itu penting sekali. Remaja kita sekarang ini besar sekali jumlahnya, ada hampir 63,4 juta, maka kalau remaja tidak disentuh, mahasiswa tidak diajak kerjasama, kita akan repot, karena kita bergantung pada mereka suatu saat nanti. Ini penting sekali,” ujarnya.
Dikatakannya, hal penting yang sebetulnya untuk kesejahteraan itu adalah remaja.

“Kalau seandainya banyak yang kawin mudah, banyak yang hamilnya berulang kali, banyak yang putus sekolah, bayak yang stunting, kematian ibu dan bayi, maka itu ikut garis merah. Artinya tidak bisa mentraformasi bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan. Harusnya mengikuti garis bonus ksejahteraan,” jelasnya.

Hasto mengharapkan kepada para remaja agar tidak nikah pada status yang mudah. “Karena yang dirugikan adalah perempuan dan bayi. Karena Allah telah menciptaka ukuran-ukuran panggul perempuan,” ungkapnya.

Menurut Hasto, ukuran panggul perempuan itu, baru sempurna setelah usia 20 tahun. Dikatakannya, Allah menciptakan diameter panggul perempuan 10 cm.” Tetapi Allah menciptakkan kepala bayi baru lahir itu tidak lebih dari 10 cm. ada yang 9,8 cm, lalu 9,9 cm dan 9,7 cm,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, banyak kematian bayi dan ibu, ketika sempit jalan bayi yang hendak keluar itu, sehingga robek dan berujung pada pendarahan bahkan kematian. “Sebetulnya, kenapa melahirkan itu harus 20 tahun, jawabannya adalah bahwa umur perempuan 20 tahun itulah baru sempurna ukuran dan panggulnya. Sehingga, bisa dilewati oleh bayi,” katanya.

Di bagian lain, Kepala BKKBN juga mengharapkan kepada kalangan remaja untuk mejauhi seks pra nikah dan jangan pernah mendekati napza (narkoba, alkohol dan lainnya). (Barlian)