Progres Pembangunan Jembatan Krueng Teukuh Capai 82 persen


Foto: analisisnews.com/agus
JEMBATAN: Kepala DPUPR Abdya, Ir Much Tavip MM saat meninjauproses pengerjaan jembatan rangka baja Krueng Teukuh Kecamatan Kuala Batee, Abdya. Hingga saat ini kemajuan pengerjaannya telah mencapai 82 persen, Kamis (12/11/2020).


BLANGPIDIE-Progres pembangunan jembatan rangka baja Krueng Teukuh di kawasan Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencapai 82 persen.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Abdya, Ir Much Tavip MM kepada wartawan, Kamis (12/11/2020) menyebutkan, kemajuan pembangunan jembatan dimaksud berjalan sesuai dengan harapan yakni telah mencapai 82 persen.

“Pengerjaannya sejauh ini berjalan sesuai dengan harapan. Pengerjaannya menggunakan sistem cantilever untuk rangka pembebanan 40 meter telah selesai dan rangka jembatannya sudah terpasang lebih dari 10 meter,” ujarnya.

Ditambahkan, jembatan rangka baja yang telah dinanti-nantikan masyarakat ini dikerjakan oleh PT Multi Putra Inti dengan serapan anggaran mencapai Rp.12 miliar lebih bersumber dari Otsus APBA tahun 2020. Dia berharap pembangunan jembatan sepanjang 60 meter itu, bisa terealisasi tepat waktu, sehingga bisa dimanfaatkan oleh para petani yang merindukan jembatan tersebut. Dia mengakui, jembatan tersebut sempat dilakukan pembatalan tender, akibat adanya pengalihan anggaran untuk Covid-19.

“Besar harapan pengerjaannya sukses dan sesuai dengan harapan bersama serta nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang hilir mudik ke lokasi perkebunan,” tuturnya.

Pembangunan jembatan sepanjang 60 meter itu, akan menghubungkan kawasan Drien Leukit, Kecamatan Kuala Batee menuju Kecamatan Babahrot melalui jalan lebar 30 meter. Seperti diketahui, pembangunan jembatan itu sempat gagal dibangun pada tahun 2019. Padahal, masyarakat setempat sudah sangat berharap jembatan itu, segera dibangun untuk kelancaran transportasi menuju lahan pertanian dan perkebunan.

Diawal kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Akmal-Muslizar, jembatan tersebut telah masuk dalam anggaran Dana Alokasi Khusus Aceh (Doka) atau Otsus 2018 sebesar Rp 10 Miliar. Sayangnya, anggaran yang telah disepekati itu berubah di tengah jalan, dan dialihkan untuk pembangunan jembatan Mancang Riek di Kecamatan Setia kabupaten setempat dengan anggaran Rp 10 miliar. Anggaran Rp 10 miliar itu, rencananya untuk pengadaan rangka baja sepanjang 105 meter, biaya pemasangan dan pengecoran lantai jembatan. Pengadaan jembatan yang mencapai 105 meter itu, dilakukan mengingat pemasangan jembatan Krueng Teukuh akan dilakukan dengan sistem cantilever atau tanpa perancah bawah, sehingga dibutuhkan rangka lebih panjang atau lebih 45 meter sebagai penopang.

Sebelumnya di tahun 2012 lalu, jembatan Krueng Teukuh tersebut juga pernah diupayakan pembanngunannya, namun kemudian terhenti akibat terjadinya pemutusan kontrak. Akan tetapi, pembangunannya kembali dilanjutkan pada tahun 2016, menggunakan anggaran APBK sekitar Rp 7,2 miliar.  Sayangnya, saat pemasangan jembatan rangka baja sudah mencapai 50 meter dari total panjang 60 meter, jembatan tersebut ambruk, akibat air hujan yang membawa potongan kayu, dan pohon sawit kemudian menghantam tiang penyanggah rangka baja tersebut. Tidak diketahui pasti, tiang penyanggah dari pohon kelapa itu dengan mudah roboh, sehingga rangka baja itu ambruk ke dasar sungai hingga saat ini rangka baja itu tidak berhasil diangkat, dan kini rangka baja itu menjadi mubazir.(ag)