Hadirnya Bank Gala Bantu Petani Miskin di Abdya

Hadirnya Bank Gala Bantu Petani Miskin di Abdya
Foto: analisisnews.com/agus BANK GALA: Bupati Abdya, Akmal Ibrahim menyerahkan secara simbolis dana pinjaman Bank Gala kepada salah satu petani dalam acara launching Bank Gala dan penyerahan ZIS di Aula Masjid Agung Baitul Ghafur, Blangpidie, Kamis (10/12/2020). 

Hadirnya Bank Gala atau Baitul Qirath Gala Muamalah yang dirintis oleh Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Akmal Ibrahim SH membawa angin segar bagi kalangan petani miskin dalam kabupaten setempat. Pemkab setempat telah membuka peluang bagi petani untuk bisa mengambil pinjaman modal tanpa bunga melalui Bank Gala.

Bupati Abdya, Akmal Ibrahim dalam sambutannya disela-sela kegiatan penyerahan hibah dana sebesar Rp.800 juta dari Baitul Mal kepada Bank Gala sebagai dana awal guna membantu petani miskin, Kamis (10/12/2020) mengatakan, hadirnya Bank Gala ditengah-tengah masyarakat Abdya dinilai sangat bermanfaat serta mampu memberikan angin segar bagi petani yang membutuhkan bantuan modal. Selama ini, banyak proses gala (gadai tradisional) yang telah lama berlangsung di Abdya bertentangan dengan syariat Islam, bahkan sangat merugikan pihak yang menggadaikan hartanya, baik berupa sawah maupun kebun.

“Kalau adat gala sawah yang selama ini berjalan ditengah masyarakat, telah jauh dari nilai ajaran Agama Islam. Pasalnya, sawah yang telah digadai oleh pemiliknya akan dikerjakan oleh pemegang gadai tanpa memberi hak sedikitpun kepada pemilik sawah,” ujarnya.

Saat telah jatuh tempo masa pengembalian sawah, uang gala yang diterima pemilik sawah pada masa itu, harus dikembalikan utuh kepada si pemegang gala yang selama ini telah berkali-kali mengambil untung dari hasil panen.

Belajar dari kekurangan itu, kehadiran Bank Gala bisa memberikan bantuan kepada petani tanpa harus merugikan mereka. Selain tanpa bunga dari pinjaman yang diambil petani, sawah yang sudah digadaikan ke Bank Gala bisa dikerjakan oleh pemilik sawah  atau petani itu sendiri dengan catatan setiap panen petani bisa menyicil pinjaman sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati antara pihak Bank Gala dengan petani. Jika petani itu gagal panen, mereka bisa melanjutkan cicilan pada panen mandatang.

Pihaknya Bank Gala dalam kegiatannya tidak akan menyita sawah petani yang dijadikan sebagai anggunan. Jika terjadi kemacetan dalam proses penyicilan, pihak bank hanya mengambil alih penggarapan lahan hingga pinjaman petani lunas dan selanjutnya mengembalikan sawah dimaksud kepada petani.

“Intinya, Bank Gala tidak akan menyita sawah petani, namun hanya meminta keseriusan petani saja agar menyicil pada saat hasil panen tiba dan tepat waktu,” katanya dalam acara Launching Bank Gala sekaligus pemberian Zakat, Infaq dan Sadaqah yang berlangsung di aula Masjid Agung Blangpidie.

Ditambahkan, Bank Gala ini tidak menghitung berapa tahun batas waktu pengambilan pinjaman. Namun dihitung sesuai perjanjian dengan petani berapa kali panen sanggup mereka melunasi pinjaman kepada Bank Gala tersebut. Kenapa selama ini Bank Gala belum beroperasi, karena harus dikaji lebih teliti agar tidak menabrak aturan yang berlaku. Meski demikian, upaya menghadirkan Bank Gala terus dilakukan meski tidak bisa menggunakan uang daerah tapi bisa dilakukan melalui dana hibah dari Baitul Mal.

“Tergantung bagaimana akatnya. Karena, bank ini hanya memberikan pinjaman maksimal pada tahap awal ini sebesar Rp.10 juta dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Maka dari itu saya wujudkan Bank Gala pada tiga tahun masa pemerintahan saya untuk membantu petani. Alhamdulillah, sudah mulai berjalan dan sudah memilik nasabah. Apabila dalam tahap ini Bank Gala berjalan sukses, maka kita akan terus mengevaluasi hingga memberikan tambahan modal yang lebih banyak kedepannya,” tuturnya.

Direktur Bank Gala Harmansyah menyebutkan kalau hingga saat ini pihaknya sudah menerima 22 petani yang mendaftar sebagai nasabah. Dari jumlah tersebut hanya dua yang lulus verifikasi dan memenuhi syarat untuk menerima dan secara simbolis sudah diserahkan oleh Bupati Abdya. Mereka yang belum lulus verifikasi itu masih harus melengkapi lagi syarat yang sudah ditentukan.

“Yang paling penting, sawah atas nama milik perorangan bukan kelompok atau lainnya. Kemudian, perlu kami tekankan, harus dibuktikan dengan surat keterangan miskin dari keuchik (kepala desa) dan surat keterangan lahan dari Keujrun Blang (ketua adat sawah) di wilayahnya,” sebutnya.

Disinggung mengenai upah jerih yang diterima para pengurus Bank Gala, dia menjelaskan, itu tergantung dari kesepakatan dan ikrar dari petani yang menerima pinjaman. Meski tanpa bunga, pada saat petani menitipkan surat sawahnya kepada pihak bank akan mengikrarkan akat berapa yang mampu diberikan kepada pengurus ketika menagih cicilan pinjaman pada saat panen nantinya.

“Tujuannya untuk membantu petani agar bisa menggala sawah dan mendapatkan modal tapi bisa menggarap sawah itu juga,” tutupnya. (ag)