Bupati Akmal Copot Kapus Manggeng

Bupati Abdya Tunjuk Lima Pejabat Jadi Plt
Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH

BLANGPIDIE-Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Akmal Ibrahim resmi mencopot Edy Fitri AMK dari jabatan Kepala Puskesmas (Kapus) Manggeng. Pencopotan Edy Fitri dari jabatan Kapus terkait kelalaian pihaknya dalam memberikan layanan kesehatan yang mengakibatkan Zaky anak berusia 6 tahun meninggal dunia beberapa waktu lalu. Zaky merupakan pasien ganguan pernapasan warga Desa Paya Kecamatan Manggeng.

Kepala Dinas Kesehatan Abdya, Safliati SST Mkes, Jumat (5/2/2021) membenarkan pencopotan Edy Fitri sebagai Kapus Manggeng. Untuk mengisi kekosongan jabatan Kapus Manggeng, Bupati Abdya menunjuk Wildan SKM sebagai penggantinya. Hal itu tertuang dalam SK Bupati nomor BKPSDM 821.29/41/2021.

“Kapus Manggeng sekarang dijabat Wildan SKM. Sebelumnya Wildan merupakan Kapus Blangpidie, untuk mengisi kekosongan Kapus Blangpidie, Bupati telah menunjuk Enni Erlina SKM yang merupakan staf penyuluh kesehatan masyarakat di Puskesmas Blangpidie.  Sementara Edy Fitri dipindahkan sebagai staf admitrasi umum di Puskesmas Lembah Sabil,” ujarnya.

Dia berharap, dengan adanya rotasi Kapus tersebut dapat membawa angin segar serta upaya perubahan dari segi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sehingga Puskesmas Manggeng memiliki manajemen kerja serta pelayanan yang mampu memuaskan masyarakat.

Seperti diketahui, layanan medis di Puskesmas Manggeng, Abdya dinilai sangat mengecewakan pihak pasien. Layanan kesehatan yang mengecewakan itu dialami oleh keluarga kurang mampu di Kecamatan Manggeng. Salman warga Desa Paya Kecamatan Manggeng harus merelakan kehilangan anaknya Zaky, (6) yang meninggal dunia karena tidak mendapatkan pelayanan maksimal dari pihak Puskesmas dimaksud.

Kejadian itu berawal saat Salman membawa anaknya berobat ke Puskesmas Manggeng, yang mengalami gangguan pernafasan, Senin malam (25/1/2021) lalu, sekira pukul 22.30 WIB. Sesampai di  Puskesmas, Salman tidak mendapatkan penanganan langsung dari petugas terhadap anaknya yang sakit, malah mereka menyarankan agar anaknya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Teungku Peukan (RSUTP) Abdya.

Arahan berobat dari petugas ke rumah sakit tidak disertai memberikan arahan dan memberikan fasilitas ambulan, sehingga pihaknya harus menunggu hampir satu jam di Puskesmas tersebut. Pihak keluarga akhirnya merujuk korban ke RSUTP Abdya dengan kendaraan pribadi milik warga.

Tiba di rumah sakit korban langsung dilayani oleh petugas. Namun dokter RSUTP yang menangangi korban, heran dan kaget melihat kondisi korban. Dokter sempat mempertanyakan kenapa tidak dirujuk pakai ambulan dan mengenakan oksigen. Setelah dijelaskan alasan dirujuk menggunakan mobil pribadi, dokter tersebut sempat marah dan menyebutkan, kondisi korban sangat kritis  akibat kekurangan oksigen. Tak lama kemudian atau sekira pukul 02.00 WIB dinihari anak Salman pun meninggal dunia.(ag)