Warga Abdya Dihimbau Jangan Bakar Hutan dan Lahan

Warga Abdya Dihimbau Jangan Bakar Hutan dan Lahan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBK) Abdya, Amiruddin

BLANGPIDIE-Warga Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dihimbau untuk tidak membakar hutan dan lahan. Selain itu masyarakat secara bersama-sama ikut bertanggungjawab dalam menjaga kualitas udara yang dihirup. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBK) Abdya, Amiruddin, Rabu (17/2) kepada wartawan.  Dimusim kemarau yang saat ini masih melanda, tentu dapat berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Tentu hal itu sangat berbahaya bagi kesehatan, sehingga diperlukan kesadaran dari seluruh kalangan masyarakat agar tidak membakar lahan dan hutan.

“Termasuk bagi masyarakat yang akan membuka lahan perkebunan dengan cara membakar. Hal inilah yang terus kami ingatkan, agar tidak ada upaya pembakaran lahan maupun hutan, karena tindakan itu sangat berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, kebakaran hutan dan lahan akan berdampak pada rusaknya ekosistem dan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan. Asap yang ditimbulkan juga menjadi polusi udara yang dapat menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik. Selain itu, asap bisa mengganggu jarak pandang, terutama untuk transportasi penerbangan.

Kebakaran hutan juga akan menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan. Hal ini yang menjadi faktor terjadinya tanah longsor maupun banjir dan kondisi ini kerap terjadi di Abdya. Akan hal itu dia mengajak seluruh masyarakat Abdya untuk saling mengawasi dan menyampaikan kepada masyarakat lainnya terkait bahayanya membakar hutan serta lahan.

Kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit baik materil maupun inmateril, oleh karenanya dalam penanggulangan bahaya kebakaran dilakukan tidak sendiri melainkan bekerja sama dan bersinergi dengan beberapa instansi terkait. Semuanya ini sesuai dengan instruksi Presiden nomor 16 tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

“Jika terjadi kebakaran di lahan gambut, biasanya api cepat merambat, apalagi jika cuaca berangin tentu akan semakin parah dan yang menjadi korban adalah seluruh masyarakat. Seperti kebakaran lahan di kawasan PT Cemerlang Abadi Babahrot, kemudian temuan titik api di perkebunan warga jalan kawasan jalan 30 Kecamatan Babahrot  yang saat ini sedang diupayakan proses pemadamannya,” tuturnya.

Catatan wartawan,  kawasan hutan dan lahan perkebunan warga di Abdya memang sangat rawan terjadinya bencana kebakaran, terutama disaat memasuki musim kemarau. Ada beberapa kecamatan yang dianggap rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, seperti di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee yang hampir setiap musim panas selalu dilanda kebakaran. Dimana dalam kawasan kecamatan tersebut terdapat ribuan hektare kawasan hutan lindung serta perkebunan rakyat. Jika titik api muncul, dengan mudah lahan tersebut terbakar dan merembes ke lokasi lain yang juga mengancam pemukiman warga setempat.

Umumnya, pemicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan itu dikarenakan kelalaian oknum warga saat membuka lahan perkebunan dengan cara membakar, bisa juga pemicu kebakaran itu karena kondisi cuaca yang panas. Bencana kebakaran hutan dan lahan tidak mengenal batasan status hutan dan lahan. Baik hutan cagar alam, hutan tanaman industri, perkebunan serta lahan pertanian milik masyarakat, sangat berpotensi dan rentan mengalami kebakaran. Bahkan, belum lama ini lahan perkebunan milik masyarakat di Kecamatan Babahrot juga sempat terbakar dan menghanguskan seluruh isi kebun.

“Jangan lakukan pembakaran lahan termasuk sampah, karena hal itu sangat berbahaya, terlebih cuaca saat ini sangat panas. Awasi pemakaian listrik yang tidak penting, penggunaan kompor gas tanpa perawatan dan sebagainya,” pungkansya. (ag)