Rektor Unsyiah: Dongkrak Kemiskinan, Aceh Harus Punya Terobosan

Rektor Unsyiah: Dongkrak Kemiskinan, Aceh Harus Punya Terobosan
Suasana seminar nasional yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia di gedung AAC Dayan Dawood kampus Unsyiah Kamis (25/2/2021)

BANDA ACEH – Untuk mendongkrak kemiskinan di Aceh, perlu dilakukan terobosan baru sektor industri dan harus ada produk yang dihasilkan. Sehingga impor yang sering terjadi selama ini, tidak perlu dilakukan. Demikian disampaikan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal M.Eng, IPU dalam seminar nasional Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di gedung AAC Dayan Dawood, Kamis (25/2/2021).

“Pembangunan itu tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Tanpa ada kehadiran investasi pertumbuhan ekonomi di Aceh sangat kecil bahkan dibawah nasional. Untuk melakukan terobosan yang besar harus ada produk produk yang dihasilkan,” ujarnya.

Dikatakan, banyak produk unggulan di daerah yang dapat dihasilkan. Selain itu, Rektor menilai, industri kecil dikembangkan akan lebih cepat mengentaskan kemiskinan. Selanjutnya, pentingnya juga menggerakkan sektor pariwisata di Aceh.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Safuadi mengatakan, hal yang perlu dilakukan sekarang pemerintah Aceh dan seluruh tataran pemerintahan baik tingkat hingga tingkat dua yaitu integrasi dan sinkronisasi dan sinergitas dari semua entitas yang ada.

“Jadi jalanya harus serentak, jangan selow-selow artinya jalan masing-masing, kekuatannya jadi tidak sempurna. Jadi ini yang terjadi sekarang,” ujarnya.
Safuadi mencontohkan seperti pemberian Beras Miskin / Beras Sejahtera itu seharusnya diberikan sebelum BPS melakukan Survei. pemberian raskin itu menurutnya adalah langkah menyelesaikan jangka setahun jadi yang selama ini dilakukan adalah waktu bagian raskin itu dibagi menjelang akhir tahun. Jadi menurutnya ketika di Survei oleh BPS pada bulan September maka tidak menjadi indikator penilaian.

Karena itu, semua stakeholder harus bergerak secara bersama-sama dan lebih kuat lagi. “Jika hal tersebut dilakukan bersama-sama dan hanya dikerjakan secara parsial, tentu hasilnya akan parsial juga,” katanya. Dalam kesempatan itu, Wakil Sekretaris PII Aceh, Rizaul Fikri mengatakan, Provinsi Aceh rencananya akan dijadikan sebagai pilar utama penggerak dan penyumbang devisa pembangunan ekonomi Nasional.

“Karena Aceh menjadi salah satu daerah perdagangan produk unggulan seperti kopi yang akan masuk dalam daftar prioritas utama pengembangan sentral perdagangan di Aceh,”jelas Fikri di Banda Aceh.

Peryataan itu disampaikannya disela-sela acara Seminar Nasional yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Aceh di gedung ACC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Kamis (25/2/2021).

Apalagi, kata dia, Aceh memiliki potensi besar di segi perdagangan Internasional. “Mengingat Aceh berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand bahkan India,”ungkap dia.

“Melalui partisipasi insinyur dalam penataan kawasan perdagangan 1000 produk dalam 1000 hari untuk satu juta lapangan kerja bisa dapat mendorong pertumbuhan perekonomian di Aceh”.

“Ketika melihat yang terjadi di Aceh saat ini dengan angka kemiskinan, sangat dibutuhkan pengembangan produk turunan agar menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan industri kopi di Provinsi itu,” jelas Fikri.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber baik lokal maupun nasional. Selain dihadiri peserta secara offline, juga hadir narasumber dan peserta secara online via zoom. Tak hanya itu, juga dihadiri para pengurus PII pusat dan Aceh maupun sejumlah tokoh nasional. (Barlian)