Harga Gabah Rendah, DPRK Minta Bulog Tak Tutup Mata

Harga Gabah Rendah, DPRK Minta Bulog Tak Tutup Mata
Foto: analisisnews.com/agus PANEN: Padi usai dipanen secara manual di areal persawahan dalam Kabupaten Abdya. Meski kualitas gabah yang dihasilkan memuaskan, namun kondisi harga saat ini di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Rabu (3/32021).

BLANGPIDIE-Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten  (DPRK), Aceh Barat Daya (Abdya), meminta Perum Bulog Sub Divre Blangpidie untuk tidak tutup mata dan mengambil sikap  terkait rendahnya harga Gabah Kering Hasil Panen (GKP) ditingkat petani pada musim panen tahun ini.

Anggota DPRK Abdya dari Partai Hanura, Rabu (3/3/2021) mengatakan, sejak memasuki pertengahan masa panen di kabupaten setempat dalam beberapa pekan terakhir ini, harga GKP ditingkat petani dilaporkan merosot, hingga mencapai harga Rp 4.100 per kilogram. Rendahnya harga GKP pada musim panen ini membuat petani resah. Padahal, musim panen sebelumnya, harga GKP di tingkat petani, bisa mencapai Rp 5.500 perkilogram.

“Terkait hal ini, Bulog harus turun tangan, dalam menangani rendahnya harga gabah kering ini, sehingga petani tidak merasa dirugikan,” ujarnya.

Dengan kondisi harga GKP hanya berkisar Rp 4.100 per kilogram itu tidak membuat petani diuntungkan, sebab harga itu di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 4.200 perkilogram. Itu sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan nomor 24 tahun 2020, tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), untuk gabah atau beras pada 16 Maret 2020. Besaran HPP yang ditetapkan dalam Permendag 24 tahun 2020, yaitu untuk GKP di tingkat petani, sebesar Rp 4200 per kilogram dan di tingkat penggilingan sebesar Rp 4.250 per kilogram. Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp 5250 per kilogram, di gudang Bulog sebesar Rp 5300 per kilogram, serta beras di gudang Perum Bulog Rp 8300 per kilogram.

Lebih lanjut dikatakan, tidak ada alasan Bulog untuk tidak menampung GKP petani. Karena, pembelian harga gabah oleh agen terhadap petani saat ini, sudah di bawah HPP.  Kesannya saat ini, Bulog pura-pura tidak tahu dengan rendahnya pembelian harga gabah petani tersebut. Harusnya ada tindakan ataupun upaya dari pihak Bulog. Jadi tidak ada alasan bagi Bulog untuk tidak menampungnya. Jika memang pejabat yang duduk di Bulog saat ini tidak becus, lebih baik mundur saja dari jabatannya. (ag)