Menilik UMKM Donya Droup Daruet

Menilik UMKM Donya Droup Daruet
Analisisnews.com/Junaidi Delung. Usuluddin MBA.,P.hD. (Candt) sedang berada di kafe miliknya Donya Drop Daruet di Lamdingin Banda Aceh. Senin (22/03/2021).

BANDA ACEH – Usuluddin merupakan salah satu pengusaha kopi Arabika dan Robusta di Aceh yang terbilang sukses. Tidak hanya itu, dirinya memiliki relasi luas hingga mancanegara. Tak jarang juga dari CV Donya Drop Daruet tersebut melakukan ekspor kopi go internasional bahkan impor alat-alat kopi ke Aceh. Diketahui, dirinya memulai bisnis tersebut sejak kuliah strata dua (S2) di Taiwan.

“Kalau dibilang kapan berbisnis, sejak kuliah di Taiwan. Peluang disana itu banyak pasar dan kopi. Nah jadi terpikir oleh kita, komoditi ekspor yang bisa kita mainkan di Aceh salah satunya adalah kopi,” ujar Usuluddin kepada analisisnews.com, Senin (22/03/2021).

Informasi yang diterima media ini, Donya Drop Daruet ini merupakan salah satu perusahaan jasa ekspor-impor kopi, distributor kemasan dan alat-alat kopi. usaha yang didirikannya itu dibangun pada tahun 2013 lalu di Peurada Banda Aceh dan kemudian pindah ke Lamdingin Banda Aceh hingga sekarang.

Saat ini CV Donya Drop Daruet telah meraih beberapa penghargaan terhadap usaha yang ditekuni itu seperti pemberi biaya masuk terbesar di Aceh (impor), kemudian penghargaan ekspo di luar termasuk di Taiwan, di Singapura, Malaysia dan Jakarta.

Untuk peluang dimasa mendatang, Donya Drop Daruet ingin melihat peluang berbasis komoditi di Aceh seperti hasil laut, hasil pertanian atau kehutanan yang bisa dilakukan pengolahan dan kemudian bisa dilakukan kembali ekspor keluar negeri.

“Kita hanya berbentuk ro material, namun dalam hal pengolahan juga pentingnya support-support pemerintah, baik sisi industri, jadi yang kita harapkan bisa hasil olahan yang kita ekspor sehingga ada value added dari sebuah bisnis itu,” jelas Candidat Doktor di Taiwan ini.

Kendati demikian, saat ditanyai terkait kontribusi Pemerintah Aceh terhadap perkembangan kopi, menurutnya pemerintah Aceh kurang mendongkrak terhadap pelaku usaha baik ditingkat lokal maupun bisnis keluar.

 

“Malah pekerjaan ini dilakukan oleh pemerintah pusat, seperti mewakili beacukai, kemudaian kemendag dibawahnya ada dinas Disperindag ekspor, mereka yang memang hari ini sebagai inisiator termasuk fasilitator, dalam hal kegiatan-kegiatan ekspor,” tegasnya saat ditemui di kafenya di Donya Droup Daruet, Lamdingin.

Geligat pemerintah Aceh, lanjut Usuluddin, misalnya hari ini gak ada atau zero (nol) apalagi pada arah ekspor dinilai ada perlakuan masih cilet-cilet. “Orientasi ekspor dan yang lain ini orientasinya sangat kurang semenjak beberapa periode pemerintah dulu, pak Irwandi, pak Zaini, pak Irwandi hingga pak Nova,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa perkembangan prospek kopi diluar itu sudah lama memang Aceh internasional trading (penjualan ke internasional), terutama ekspor kopi dengan pasar Amerika dan Eropa, termasuk Asia. Namun semasa covid 19 memang banyak kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha ready salah satunya kurangnya permintaan dari luar dan efek ekonomi yang mungkin terjadi sehingga hari ini barang atau kopi itu tertumpuk dan harga menjadi menurun.

Sebagai pelaku usaha Usuluddin mengharapkan kepada pemerintah daerah, pusat, maupun swasta menginginkan bersinergi dalam kegiatan ekspor go internasional trading disamping fokus berdasarkan pelaku kebutuhan.

“Jadi harapan kita itulah, pemerintah harus serius dengan melakukan orientasi internasional trading ini dengan fokus proyeknya berbagai stakeholder diarahkan ke situ. Jadi jangan setengah hati gitu, itu harapan kita melihat Aceh kan komiditi yang paling banyak dari segi komoditi ekspornya, namun hari ini kita masih melakukan dari Belawan,” tandasnya.

Seandainya kegiatan itu dilakukan di Aceh, tambahnya, PAD daerah akan bertambah, angka pengangguran bisa berkurang, kemudian  pelaku usaha juga meningkat, melihat peluang-peluang kegiatan-kegiatan.

“Hari ini juga internasional trading kita masalah seaport yang terkendala, bisa buat pelabuhan, lewat udara, status SIM pembekuan karena sudah satu tahun tidak ada tenaga penganggkutan salah satu armada adalah Cargo udara, karena ada barang-barang tertentu seperti ikan barang lahan lebih cepat. Jadi harapan kita juga bisa menyegerakan adanya penerbangan keluar negeri, Cargo lah pesawat Komersil menyangkut kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan internasional tradding itu,” jelasnya dengan berharap.

Disampaikan juga bahwa beberapa hari belakangan ini, dirinya dan beberapa orang lain dari beacukai, disperindag Aceh turun ke beberapa wilayah di Aceh seperti ke Takengon, Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Utara, Sigli, Pidie Jaya dan lainnya untuk membangun komitmen dengan pelaku usaha terkait out documentary di Aceh.

 

“Kita Donya Drop Daruet membuka jasa dengan nama Donya logistik Aceh sebagai konsilidator. Konsilidator itu memang menjadi tempat penimbunan barang, TPS nya terpusat disitu. Jadi karantina, disperindag, beacukai kita buka satu area dan area itu di Krueng Mane di Aceh Utara. Harapan kita, pemerintah itu bisa membuka mata membuatkan regulasi terkait semua dokumen dan semua komiditi yang ada di Aceh kaitan dengan ekspor. Artinya wajib all clearen, semua dokumen itu harus dilakukan di Aceh walaupun kita hari ini pengangkutannya harus di Belawan, tapi dokumen harus diselesaikan di Aceh.” demikian Usuluddin. (Junaidi Delung)