Sebanyak 42 Orang dari AT dan Bm Ikuti Kegiatan KLA

Sebanyak 42 Orang dari AT dan Bm Ikuti Kegiatan KLA
Analisisnews.com/Junaidi Delung. Sebanyak 42 orang ikuti kegiatan Pelatihan Kota Layak Anak (KLA) di Aula Grand Nanggroe Hotel (GNH) Lueng Bata Banda Aceh, pada Selasa, (30/03/2021).

BANDA ACEH – Sebanyak 42 orang ikuti kegiatan Pelatihan Kota Layak Anak (KLA) di Aula Grand Nanggroe Hotel (GNH) Lueng Bata Banda Aceh, pada Selasa, (30/03/2021).

Kegiatan Kota Layak Anak yang di maksud merupakan kegiatan yang bersifat membantu hak-hak bagi seorang anak yang sebelumnya belum terpenuh sehingga dibantu dan kemudian bisa terpenuhi.

Tidak hanya itu, kegiatan pelatihan KLA ini juga disampaikan bagaimana mengatasi dan membantu anak-anak bebas dari tindakan-tindakan kekerasan yang terjadi.

Informasi yang diterima media analisisnews.com, kegiatan ini berlangsung selama dua hari kedepan dimulai sejak Selasa sampai Rabu, 30-31 Maret 2021.

Pada kesempatan tersebut, salah satu narasumber Risda Zuraida menyampaikan materi penting terhadap kegiatan ini khususnya Hak Anak. Disampaikan, awal timbulnya tindakan dan pemikiran beberapa negara di dunia terhadap hak anak ini berawal pasca perang dunia kedua. 

Pada perang ini muncullah aktivis perempuan yang turut memperhatikan hal-hal seperti anak yang tidak lagi memiliki orang tua sementara mereka memerlukan perhatian orang tua. Fenomena ini yang dalam analisanya yang bisa berpengaruh besar terhadap perkembangan dan masa depan anak ini dimasa yang akan datang.

Dari tragedi dan fenomena itulah beberapa negara di dunia (PBB) merumuskan terkait hak anak ini, salah satunya negara Indonesia dengan membuat beberapa program terhadap pemenuhan hak anak. Hal ini bertujuan untuk menjaga anak agar tidak menyimpang dan berdampak pada sikap yang mempengaruhi kehidupan anak seperti tidak mendapatkan perhatian orang tua dan perhatian lainnya.

“Konvensi hak anak bertujuan ingin mengakui hak-hak anak terpenuhi, diberikan kasih sayang dan lainnya,” ucap Risda mengutip bahan materi yang disampaikan pada kegiatan ini.

Lebih lanjut, Risda menyampaikan ada empat prinsip dapat dipenuhi terkait hak anak ini. Pertama Non Diskriminasi, kedua kepentingan terbaik untuk anak, ketiga hidup tumbuh dan berkembang anak, dan keempat penghargaan terhadap pendapatan anak.

Dari keempat ini dijelaskan secara rinci bahwa masing-masing prinsip tersebut memiliki peran substansi baik dalam keluarga maupun diluar keluarga.

Selain keempat itu, juga dijelaskan juga terkait beberapa klaster terhadap perkembangan dan edukasi terhadap anak oleh ayah dan ibu.

Dalam diskusi ini juga disampaikan akan membentuk gerakan-gerakan terkait hak anak untuk masa depan generasi Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Amatan media ini, terdapat enam orang narasumber yang mengisi kegiatan hari ini dan esok hari, seperti Nevi Eriyani, SE, Wakil DPR Aceh, Hendra Budian SH, Amrina Habibi,SH.,MH,  Ustadz Dr. Agustin Hanafi, DR. IR. Dyah Erti Idawati, serta Dr. Hendra Syahputra.  (Junaidi Delung)