Lasma Farida Ajak Guru PAI SMA dan SMK Laksanakan Pembelajaran Abad 21

Analisisnews.com/Junaidi. Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 13 Bener Meriah Lasma Farida, S. Ag, M. Pd.

REDELONG : Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 13 Bener Meriah Lasma Farida, S. Ag, M. Pd mengajak guru PAI SMA Dan SMK melaksanakan pembelajaran abad 21. Ajakan tersebut disampaikan Lasma Farida ketika menjadi pemateri pada acara Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi Guru SMA dan SMK se-Kabupaten Bener Meriah, Selasa (06/07/2021).

Kepada analisisnews.com disampaikan, acara yang digelar Forum MGMP Bidang Studi PAI di Aula SMA Unggul Binaan Pante Raya selama satu minggu tersebut diisi oleh beberapa pemateri, salah satunya Lasma Farida.

Penulis Novel Cut Nyak Lahore (CNL) itu menyampaikan, dalam pembelajaran abad 21 guru dituntut harus mampu mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap perkembangan teknologi, “sebab dengan adanya teknologi akan turut mempercepat perkembangan ilmu dan pengetahuan di segala bidang,” kata Kepala MIN 13 Bener Meriah yang terletak di Desa Bathin Baru Kecamatan Bandar ini.

“Perkembangan teknologi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pembelajaran, karena pengaruh itulah peserta didik diharap mampu beradaptasi sesuai zaman sehingga pada gilirannya mereka dapat berkompetisi secara baik pada masa mendatang,” tambah Lasma Farida yang kini sedang sibuk menyelesaikan Novel CNL episode ke 2.

Lebih lanjut Lasma Farida menambahkan, proses pembelajaran abad 21 harus dimulai dari suatu yang mudah sampai kepada yang sulit, dengan menerapkan elemen (4C) yaitu, creativity and innovation, critical thinking and problem solving, communication dan collaboration.

Creativity and Innovation (Daya Cipta dan Inovasi) dimaksudkan, guru diharapkan dapat mengajak peserta didik agar dapat membiasakan diri dalam melakukan dan menjelaskan atau mempresentasikan ide-ide dalam pikirannya kepada teman sekelasnya secara terbuka untuk menimbulkan respon dari teman kelas. “Kegiatan pembelajaran seperti ini dapat menjadikan persepsi peserta didik menjadi lebih,” jelas ibu 3 anak itu. 

Lasma Farida, S.Ag., M.Pd Guru berprestasi tingkat provinsi itu merincikan bahwa Collaboration (Kerjasama) ini menuntut guru agar mampu  mengajak peserta didik belajar membuat kelompok (grup), sehingga dalam kelompok tersebut peserta didik mampu menyesuaikan diri dan memimpin kelompoknya. 

“Tujuannya agar peserta didik dapat bekerja lebih efektif dengan orang lain, menimbulkan dan meningkatkan empati serta dapat menerima pendapat yang berbeda, disamping itu melatih peserta didik bertanggung jawab, dapat beradaptasi dengan lingkungan, masyarakat, tegas Lasma Farida.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam Communication (Komunikasi) guru harus dapat membuat peserta didik menguasai, mengatur (manajemen) dan membuat hubungan komunikasi secara baik dan benar baik tulisan, verbal dan multimedia. 

“Peserta didik diminta menggunakan kemampuan komunikasinya dalam mengelola informasi untuk menyampaikan gagasan dan berargumen dalam memecahkan masalah,” jelas kepala Sekolah yang baru 6 bulan itu.

Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah), lanjutnya, dimaksudkan agar guru mengajak peserta didik menggunakan nalar yang logis dalam menentukan pilihan yang sulit sehingga tercipta pemahaman yang komprehensif. 

“Dalam pembelajaran abad 21 poin ini adalah paling urgen, karena berpikir kritis dan pemecahan masalah akan mengajak peserta didik agar dapat berpikir secara deduktif dan induktif secara mandiri yang bertujuan untuk menguasai dan mampu menyelesaikan masalah yang rumit.” Demikian ungkap Lasma Farida. (Jun)