Diserang Hama Tikus, Petani Bajak Kembali Sawah

Sawah Dibajak Ulang Bukan Kawasan Endemis Hama Tikus
Foto: analisisnews.com/agus BAJAK KEMBALI: Tanaman padi milik petani di areal persawahan kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng, Abdya terpaksa dibajak kembali lantaran diserang hama tikus, Selasa (13/7/2021) lalu.

BLANGPIDIE-Petani di areal persawahan kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terpaksa harus membajak kembali tanaman padi yang telah berusia 1 bulan lebih pascatanam. Hal itu dilakukan lantaran tanaman padi yang semula tumbuh subur, rusak parah akibat diserang hama tikus.

Darwis salah seorang petani kepada wartawan, Rabu (14/7/2021) menyebutkan, sedikitnya ada delapan hektare (ha) sawah dengan kondisi padi usia 1 bulan lebih yang rusak akibat serangan hama tikus.  Hama tikus dapat merusak hingga 80 persen tanaman padi pada satu petak dalam satu malam. Serangan hama tikus tersebut  mulai pada bagian akar, batang, daun. Bahkan jika sudah berbuah, bulir padi juga akan menjadi sasarannya. Sehingga tanaman padi tidak dapat berkembang dengan baik. Hal ini tentu menyebabkan kerugian yang tinggi bagi petani setempat.

Selain diserang hama tikus, serbuan burung pipit juga ikut merusak malai padi yang mulai berisi. Untuk mengantisipasi burung pipit tersebut, petani terpaksa membuat berbagai macam alat yang dianggap mampu untuk mengusir hama pipit yang kerap meresahkan tersebut.

“Tanaman padi petani banyak yang rusak dan terancam gagal panen karena diserang hama tikus juga burung pipit. Tanaman padi yang telah rusak oleh serangan hama itu, langsung dibajak kembali menggunakan traktor untuk ditanami bibit yang baru,” katanya.

Dia dan petani lainnya mengaku sudah mencoba menggunakan berbagai macam obat untuk membasmi atau mengusir tikus agar tidak terus merusak tanamam padi. Namun upaya itu belum membuahkan hasil, malah serangan hama dimaksud semakin parah dan menjadi-jadi hingga tak dapat dipertahankan lagi.

“Tidak ada cara lain, solusinya harus digarap ulang dan ditanami bibit yang baru. Mungkin masa tanam kali ini yang terparah areal persawahan kami, jika dibandingkan masa tanam lalu. Tapi ya sudahlah, usaha kami akan terus berlanjut. Meski gagal sekali, kami berupaya untuk berhasil di penggarapan yang kedua,” tuturnya.

Meski menggarap dilahan yang sama, para petani dikawasan setempat tidak berputus asa. Upaya untuk mencapai hasil yang baik akan terus dilakukan meski hama tikus masih terus akan menjadi ancaman pada pase penanaman kedua.  Akan hal itu, pihaknya berharap kepada instansi terkait dan penyuluh pertanian dalam kawasan setempat untuk memberikan pendampingan agar padi yang akan ditanami kembali bisa selamat dari serangan hama tikus maupun hama burung pipit.

“Jika tidak ada pendampingan, dikhawatirkan serangan hama akan kembali terjadi. Kondisi petani saat ini merugi, lantaran tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk proses penanaman padi yang pertama, ditambah proses penggarapan sawah kedua dengan biaya yang sama,” pungkasnya.(ag)