Sawah Dibajak Ulang Bukan Kawasan Endemis Hama Tikus

Sawah Dibajak Ulang Bukan Kawasan Endemis Hama Tikus
Foto: analisisnews.com/agus BAJAK KEMBALI: Tanaman padi milik petani di areal persawahan kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng, Abdya terpaksa dibajak kembali lantaran diserang hama tikus, Selasa (13/7/2021) lalu.

BLANGPIDIE-Areal persawahan kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang terpaksa dibajak kembali meski tanaman padi telah berusia 1 bulan lebih pascatanam akibat diserang hama tikus sawah (Rattus argentiventer) bukan merupakan kawasan endemis hama tikus. Hal tersebut disampaikan Kabid Produksi Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Darwis SP kepada wartawan, Kamis (15/7/2021).

Dikatakan, saat serangan hama tikus itu terjadi, para petani setempat juga dibantu petugas lapangan Distanpan termasuk para penyuluh pertanian telah melakukan berbagai upaya pengendalian. Namun hal tersebut belum membuahkan hasil lantaran faktor cuaca hujan yang bersamaan dengan musim kawin tikus, ditambah lagi kondisi hamparan yang kecil. Sehingga pergerakan hama tikus hanya tertuju pada areal persawahan itu untuk mencari makanan.

“Sejauh ini kami tetap memantau perkembangan di lapangan dan berbagai upaya pengedalian telah dilakukan, namun belum membuahkan hasil. Sehingga para petani bersepakat untuk menggarap lahan mereka kembali. Jika tetap dipertahankan, para petani akan tetap rugi karena nilai ekonomisnya sangat jauh berkurang,” paparnya.

Ditambahkan, hama tikus sawah  merupakan hama padi utama, kerusakan yang ditimbulkan cukup luas dan hampir terjadi setiap musim. Tikus menyerang semua stadium tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti seperti yang dialami para petani di kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng.

Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan lingkungan sekitar sawah. Daya adaptasi tinggi, sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Mereka suka menggali liang untuk berlindung dan berkembang biak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi. Tikus sawah termasuk omnivora (pemakan segala jenis makanan).

Apabila makanan berlimpah mereka cenderung memilih yang paling disukai, yaitu biji-bijian seperti padi yang tersedia di sawah. Pada kondisi bera, tikus sering berada di pemukiman, mereka juga menyerang semua stadium tanaman padi, sejak pesemaian sampai panen. Tingkat kerusakan yang diakibatkan bervariasi tergantung stadium tanaman.

“Faktor lainnya bisa karena tidak serempaknya proses pengolahan sawah, sanitasi, pemanfaatan musuh alami tikus juga dapat mengurangi populasi tikus seperti yang kami terapkan di sejumlah hamparan termasuk di kawasan Beuah Kecamatan Susoh,” pungkasnya.

Seperti diketahui, petani di areal persawahan kawasan Desa Tengah Kecamatan Manggeng Abdya terpaksa harus membajak kembali tanaman padi yang telah berusia 1 bulan lebih pascatanam. Hal itu dilakukan lantaran tanaman padi yang semula tumbuh subur, rusak parah akibat diserang hama tikus. sedikitnya ada delapan hektare (ha) sawah dengan kondisi padi usia 1 bulan lebih yang rusak akibat serangan hama tikus.  Hama tikus dapat merusak hingga 80 persen tanaman padi pada satu petak dalam satu malam. Serangan hama tikus tersebut  mulai pada bagian akar, batang, daun. Bahkan jika sudah berbuah, bulir padi juga akan menjadi sasarannya. Sehingga tanaman padi tidak dapat berkembang dengan baik. Hal ini tentu menyebabkan kerugian yang tinggi bagi petani setempat.

“Tanaman padi petani banyak yang rusak dan terancam gagal panen karena diserang hama tikus juga burung pipit. Tanaman padi yang telah rusak oleh serangan hama itu, langsung dibajak kembali menggunakan traktor untuk ditanami bibit yang baru,” kata salah seorang petani. (ag)