YARA: Diduga Ada Kejanggalan Dibalik Kaburnya Napi

YARA: Diduga Ada Kejanggalan Dibalik Kaburnya Napi
Ketua YARA Perwakilan Abdya, Suhaimi SH

BLANGPIDIE-Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Barat Daya (Abdya) menduga ada beberapa kejanggalan dalam upaya kaburnya sembilan narapidana (Napi) dari Lembaga Pemasyarakatan kelas II-B Blangpidie, kawasa Desa Alue Dama, Kecamatan Setia, Abdya beberapa hari lalu.

Ketua YARA Perwakilan Abdya, Suhaimi SH di Blangpidie, Minggu (18/7/2021) berharap, pihak KemenkumHam perlu membuka CCTV di Lapas Blangpidie. Karena ada yang janggal dan aneh terkait kaburnya sembilan narapidana dari Lapas itu. Dugaan m itu timbul usai meninjau langsung ke Lapas kelas II-B Blangpidie di Kecamatan Setia, Abdya, pada Sabtu (17/7/2021) pasca kaburnya sembilan narapidana yang sebagiannya terlibat kasus narkoba.

Menurutnya, disamping perlu membuka rekaman CCTV, pihak Kemenkum HAM Republik Indonesia (RI) juga perlu meminta pihak Kepolisian setempat untuk mengusut peristiwa kaburnya sembilan narapidana dari Lapas kelas II-B Blangpidie tersebut.

Karena, kronologis kaburnya napi lewat jendela aula Lapas sebagaimana disampaikan kepala Lapas sangat tidak masuk akal, dan mustahil orang dewasa bisa lolos dari lobang berukuran diameter sekitar 40×15 cm.

“Aneh sekali, tidak masuk akal sembilan narapidana bisa kabur lewat lobang jendela berukuran sekitar 40×15 cm. Jangankan orang dewasa, anak-anak saja sulit melewati dua teralis besi yang dipatahkan itu,” ujarnya

Kalaupun memang benar melewati lobang kecil itu, tentu proses kaburnya memakan waktu lama karena mereka (napi) harus memotong (merusak) lagi dua teralis besi jendela. Jadi, sangat mustahil, apalagi kejadiannya siang hari.   Untuk itu, pihaknya menduga sembilan narapidana tersebut kabur melalui pintu utama depan Lapas Blangpidie karena saat peristiwa terjadi, pintu steril dan pintu penyekat yang dijaga petugas sipir juga tidak terkunci.

“Ironisnya,  setelah membuka pintu, napi hanya menikam satu orang petugas. Kenapa tidak kedua-duanya. Ini janggal, pihak Kemenkum HAM perlu buka CCTV dan meminta Kepolisian mengusutnya,” tuturnya.

Bukan itu saja, saat dirinya ingin melihat lebih dekat jendela yang dibobol sembilan narapidana itu, pihak Lapas Blangpidie keberatan dengan alasan sudah diberi tanggapan oleh Kakanwil, Kemenkum HAM Aceh. Harusnya semua pihak boleh melihatnya, sehingga menjadi bahan evaluasi ke depan. Jadi, untuk menghindari timbulnya fitnah, maka buka saja rekaman CCTV supaya persoalan ini terang-benderang. (ag)