Pewaris Pelaku Seni dan Budaya di Aceh Tengah Diberi Penghargaan

TAKENGON : Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah menetapkan sebanyak 20 orang mendapatkan penghargaan kepada pelaku Seni dan Budaya di kabupaten tersebut.

Penghargaan ini diberikan kepada 20 orang ahli waris itu usai melaksanakan upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke 76, di lapangan Setdakab setempat. Selasa (17/8/2021).

Analisisnews.com/Junaidi. Penerima penghargaan dari Pemerintah Aceh Tengah.

Adapun nama-nama yang mendapat penghargaan dari Pemkab setempat adalah 10 orang sebagai pengarang dan ceh, dua orang penyair, dua orang Pemelengkan, dua orang pelukis, dan masing-masing lainnya sebagai penari/penyanyi, pemusik/pengarang, pengrajin Gerabah dan pengrajin Tepas.

Adapun 10 Pengarang dan Ceh adalah seperti Abd. Rahman yang diterima Artika, Abu Bakar (Ikhwan Taufik), Abuli (Sukri S. Gobal), Mustapa AKA (Iwan Sabri), Muhammad Basir (Ginta Warni), M. Ali Asni (Abdullah Ali), Ishak (Nurdiana), Ishaq Ali (Abdul Rahman) dan Merah yang diterima (Hasanah).

Sementara untuk dua penyair yaitu Abdurrahman Daudy atau Tgk Mude Kala yang diterima Rumbiana Ardi, Saidah (Mariana). Kemudian dua pemelengkan lainnya adalah M. Saleh diterima Sulaiman, dan Zulfikar MJ diterima oleh Nuri Angkasa.

Selanjutnya untuk dua orang pelukis adalah Kedro Z, diterima oleh Laila Khairani, Tomas diterima Sukri T. Kemudian penari/penyanyi, Siti Aisyah diterima Fadli, Ar Moese sebagai pengarang/pemusik diterima Ani Fatma, dan Pengrajin Gerabah, Murniati, diterima olehnya sendiri serta pengrajin Tepas Saleh yang diterima oleh Hasmadi AW.

Sementara itu, Bupati Aceh melalui Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Mahdi S.Pd kepada analisisnews.com imenyampaikan, untuk tahun ini memang penghargaan diberikan kepada 20 orang, karena keterbatasan anggaran.

“Harapan kita, melalui Bidang Kebudayaan tersebut dapat berkontribusi membangun negeri melalui sejarah dan tradisi, seni dan cagar budaya serta museum sehingga kebudayaan Gayo tidak menjadi bernilai historis namun juga nilai ekonomis bagi masyarakat Aceh Tengah,” ujar Mahdi.

Untuk tahun depan, kata Mahdi, pihaknya akan melayangkan program menarik lainnya seperti mengadakan diskusi untuk Gayo serumpun (membahas kerajaan Gayo) dan pemutakhiran data seniman Gayo di Aceh Tengah. (Jun)