Nelayan Abdya Panen Udang Rebon

Nelayan Abdya Panen Udang Rebon
Foto: analisisnews.com/agus s UDANG REBON: Nelayan memanen udang rebon di kawasan laut Blang Padang Kecamatan Tangan-Tangan, Abdya, Rabu (25/8/2021).

BLANGPIDIE-Nelayan tradisional di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam beberapa pekan terakhir panen udang rebon. Musimnya undang kecil ini menjadi berkah tersendiri dan dimanfaatkan oleh para nelayan termasuk kalangan masyarakat setempat untuk menjaring udang di perairan dangkal laut. Proses penjaringan udang pun tidak terbilang sulit, bahkan alat tangkap yang digunakan merupakan alat tradisional serta sangat sederhana.

Amatan wartawan, Rabu (25/8/2021) nelayan tradisional di wilayah pesisir pantai Desa Padang Kawa, Blang Padang dan Mon Mameh  Kecamatan Tangan-Tangan serta sebagian pesisir Desa Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh, Kabupaten Abdya saat ini sedang sibuk memanen udang rebon. Kondisi itu menjadi berkah tersendiri bagi para nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di laut. Dalam sekali membentangkan pukat darat (pukat hela) ke laut, nelayan bisa mendapatkan udang rebon hingga 1 ton.

Hasan nelayan di Desa Padang Kawa mengatakan, jika sudah memasuki puncak masa panen bisa sampai 1 ton sekali bentangkan jaring pukat darat. Karena ini baru awal panen, rata nelayan mendapatkan 400-500 kg. Dia bersama nelayan lainnya, mulai melakukan aktivitas di laut dari pukul 06.00-12.00 WIB. Musim udang rebon akan berlangsung sampai bulan September atau hingga akhir di bulan Agustus ini.

Sementara harga udang rebon kering bisa mencapai Rp40.000 per kg, sedangkan untuk udang rebon yang baru ditangkap dalam keadaan masih basah dibandrol dengan harga Rp.300.000 per keranjang ukuran piber nelayan setempat. Rata-rata nelayan menggunakan alat tradisional untuk menangkap udang rebon yang menjadi bahan baku utama untuk membuat terasi tersebut.

Alat tangkap yang digunakan juga sangat sederhana, mulai dari penebaran pukat darat dengan menggunakan perahu yang kemudian dihela ke tepian secara beramai-ramai dan menggunakan jaring yang sebelumnya telah dirakit untuk digunakan nelayan menangkap udang sambil menyelam di balik ombak. Bahkan oleh masyarakat setempat, udang rebon yang masih basah dan segar sengaja dikeringkan untuk dijadikan udang sabu (udang kering). Dimana, udang sabu ini termasuk salah satu lauk yang disukai masyarakat setempat saat menyantap nasi.

Muklis nelayan lainnya menambahkan, sejauh ini proses pengeringan udang umumnya mengandalkan panas matahari. Udang rebon hasil tangakapan dari nelayan, oleh para pedagang dijemur di tempat terbuka yang langsung terkena panas matahari. Bahkan nelayan mengeringkan udang dimaksud di halaman rumah. Ada juga yang menjemur udang rebon di pinggir jalan desa dan dipinggir pantai.

Udang rebon memang banyak diburu produsen termasuk warga dari sejumlah daerah, karena kualitasnya bagus. Maka wajar jika pesanan dari perajin terasi terus berdatangan, terkadang dari Medan Sumatera Utara, sehingga nelayan dibuat kewalahan untuk menyediakan udang rebon.

“Udang rebon ini bermusim tepatnya disaat musim barat, jadi persediaannya pun tidak selalu ada. Kalau musimnya usai, udang tersebut juga susah didapat,” terangnya.(ag)