Tradisi Meugang Berawal Dari Sultan Iskandar Muda

  • Whatsapp
Tradisi Meugang Berawal Dari Sultan Iskandar Muda
Wakil Ketua I Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, Tgk. Yusdedi

BANDA ACEH-Wakil Ketua I Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, Tgk. Yusdedi Senin  (28/3/2022) mengemukakan tentang pentingnya meugang (hari punggahan) di Aceh. Dia mengatakan, tradisi meugang berawal saat Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam.

Sehari sebelum Ramadan, Sultan meminta petinggi istana untuk membagikan daging lembu dan kerbau pada rakyat, utamanya fakir miskin. Kenduri pun digelar di istana, Sultan bersama seluruh pembesar istana hadir dan santap daging bersama.

“Itu bentuk syukur dan suka cita menyambut Ramadan. Dulu sampai kinikan begitu, pimpinan bahkan orang yang lebih pendapatannya berbagi daging pada masyarakat kurang mampu,” sebutnya.

Bahkan, ketika Belanda menduduki Aceh, tradisi meugang tetap dipertahankan. Bedanya, meugang bukan  daging yang dibagi langsung oleh Belanda kepada rakyat. Namun melalui pimpinan desa yang menjadi sekutu Belanda.

Masyarakat Aceh mengenal istilah meugang kecil dan meugang besar. Meugang kecil dua hari sebelum Ramadan. Meugang besar satu hari sebelum Ramadan.

“Bedanya, masyarakat membeli daging dalam jumlah kecil pada meugang kecil. Karena biasa hanya dikonsumsi untuk keluarga sendiri, tidak dibagi-bagi. Kalau meugang besar biasanya itu dibagikan pada masyarakat lainnya,” katanya.

Meugang atau sering juga disebut makmeugang, sangat penting bagi semua lapisan masyarakat di Aceh. Karena sesuai dengan anjuran agama Islam, datangnya bulan Ramadan sebaiknya disambut dengan meriah. Begitu juga dengan dua hari raya, yaitu hari raya Idulfitri dan Iduladha.

Jika pada hari-hari biasa masyarakat Aceh terbiasa menikmati makanan dari sungai maupun laut, maka menyambut hari istimewa yaitu hari meugang, masyarakat Aceh merasakan nikmatnya daging sapi atau lembu yang terbaik untuk dihidangkan.

Meskipun yang utama dalam tradisi meugang adalah daging lembu, namun ada juga masyarakat yang menambah menu masakannya dengan daging kambing, kerbau, ayam juga bebek.

Dalam konteks masyarakat Aceh saat ini, untuk memperoleh daging lembu guna merayakan tradisi meugang dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, antara lain meugang di gampong, kantor, dan membeli daging di pasar.(adv)

Pos terkait