Minimnya Mesin Pemanen Padi Kecewakan Petani Abdya

  • Whatsapp
Minimnya Mesin Pemanen Padi Kecewakan Petani Abdya
Foto: analisisnews.com/agus s MASA PANEN: Tanaman padi milik petani di Desa Masjid, Kecamatan Tangan-Tangan Abdya sudah memasuki masa panen namun belum bisa dipanen lantaran tidak adanya mesin pemanen padi, Selasa (12/4/2022)

BLANGPIDIE-Ribuan hektare areal sawah milik petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) ada yang sudah dan mulai memasuki masa panen raya. Sayangnya, sejumlah petani di beberapa desa dalam Kecamatan Tangan-Tangan mulai merasa khawatir bahkan ada yang merasa kecewa akibat sulitnya mendapatkan mesin pemanen padi (Combine Harvester).

Jabarudin salah satu petani di Kecamatan Tangan-Tangan, Selasa (12/4/2022) mengaku sudah beberapa kali mencari mesin pemotong  untuk memanen padi miliknya yang telah menguning.. Akan tetapi, upayanya sia-sia lantaran jumlah mesin yang ada di kawasan tersebut tidak sesuai dengan jumlah lahan yang tersedia (minim).

Di lain sisi, terdapat ratusan hektare padi petani dalam wilayah tersebut sudah mulai menguning dan memasuki masa panen. Namun, hingga saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda kehadiran mesin pemotong padi tersebut. Bahkan informasinya, ada padi petani yang nyaris rontok karena kesulitan memperoleh mesin tersebut, baik milik pemerintah kabupaten setempat maupun milik swasta. Tidak ada cara lain, mereka terpaksa menggunakan jasa tukang potong manual.

“Saat ini banyak padi petani yang sudah memasuki masa panen, seperti di Desa Masjid, Padang Kawa, Padang Bak Jok dan sejumlah desa lainnya. Tapi keberadaan mesin pemotong padi sangat minim. Imbasnya, hasil panen kami nanti tidak sesuai target lagi, karena lebih banyak yang rontok sebelum dipanen,” katanya.

Memang dalam beberapa hari ini ada sekitar satu atau dua unit mesin pemanen padi yang sedang beroperasi dalam kawasan Tangan-Tangan, namun terkadang sering rusak hingga memakan waktu satu sampai dua hari untuk memperbaikinya.

“Untuk itu, kami berharap pemerintah setempat melalui instansi terkait dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan Abdya untuk segera mengambil langkah cepat agar padi petani tidak mengalami kerontokan di batang akibat terlalu lama dipanen. Apalagi kondisi cuaca sekarang terkadang panas dan malamnya hujan. Otomatis akan membuat bulir padi semakin cepat menguning,” paparnya.

Kekhawatiran petani semakin menjadi-jadi lantaran masa panen kali ini dalam bulan suci Ramadan. Mereka berharap, jelang Idul Fitri mendatang semua hamparan di kawasan setempat telah tuntas terpanen. Dengan demikian, hasil yang sudah didapat akan menjadi persiapan jelang lebaran nanti.

“Semoga saja, ada solusinya. Kalau seadainya tidak ada juga, ya terpaksa kami harus potong sendiri menggunakan jasa tukang potong. Itupun juga akan menciptakan masalah baru lantaran mesin perontok padi sudah jarang terlihat di Abdya,” sambung Hasmizar petani lainnya.

Muhammad Yakop salah satu keujrun blang (ketua adat sawah) dalam kawasan setempat menyebutkan sejumlah lahan di bawah pantauannya sudah mulai memasuki masa panen, bahkan ada yang sudah terlewat dari waktu umur panen padi.

“Umur padi rata-rata antara 100-120 hari, kalau sudah melewati waktu itu bisa saja akan rontok. Maka dari itu, kami berharap hamparan sawah kami ini segera didatangkan mesin pemotong padi paling tidak sekitar dua unit agar lebih maksimal. Apalagi saat ini sudah mulai musim hujan,” sebutnya.

Lahan di Kecamatan Tangan-Tangan ini merupakan sawah produktif yang mampu menghasilkan panen gabah terbaik hingga banyak agen atau tengkulak yang melirik untuk membeli hasil panen petani. Selama petani Abdya sudah terbiasa memanen dengan mesin pemanen padi, jarang sekali yang menggunakan alat manual seperti arit (sabit) pemotong padi. Karena kos biaya memanen manual sangatlah besar jika dibandingkan dengan mesin.

Tebang pilih

Kejadian serupa juga sempat dialami oleh petani lainnya di Kecamatan Jeumpa yang merasakan sulitnya mendapatkan mesin pemanen padi milik pemerintah. Mulai dari kejadian langkahnya mesin, hingga persoalan tebang pilih saat akan memanen padi. Kondisi tersebut sangat mengecewakan para petani yang berharap sesuai dengan pesan Bupati Abdya.

“Saya sempat beberapa kali membuat jadwal dengan operator mesin pemotong padi, namun kerap kali gagal lantaran dia lebih memilih memanen padi milik kerabat atau saudaranya hingga padi saya nyaris rontok di batang,” terang Aidil petani setempat.

Bahkan menurut informasi yang diterima wartawan, ada petani di Kawasan Kecamatan Kuala Batee harus memanen padinya secara manual. Hal itu dilakukan lantaran sawah milik petani dimaksud tidak tersentuh oleh mesin pemanen padi. (ag)

Pos terkait