Revitalisasi Budaya Kejatidirian Gayo Ada Dalam Lagu “Tawar Sedenge”

  • Whatsapp
Pemerhati sosial dan Gayo, Maskur Hakim S.Pd.

REDELONG – Revitalisasi konsep berpikir Urang Gayo melalui lagu “Tawar Sedenge” itu suatu keniscayaan besar, karna didalamnya tersirat pesan karya budi luhur serta jati diri urang Gayo yang sebenarnya.

Demikian yang disampaikan Maskur Hakim, S.Pd kepada Analisisnews.com, Jum’at (22/7/2022). Ia merupakan salah seorang tokoh serta pemerhati Gayo asal Desa Hakim, Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah.

Bacaan Lainnya

“Baik lambang kekayaan alamnya terutama menitik beratkan pada etos kerja, pada setiap elemen atau pribadi muda-mudi Gayo, baik dalam semangat bekerja keras,” kata Maskur melalui keterangan rilisnya.

Di samping itu juga lagu tawar sedenge ini aplikasi sosial masyarakat menitikberatkan bagaimana bisa gigih dalam berjuang dalam segala bidang berangkat dari satu lirik lagu Tawar sedenge.

“Engon ko so tok ni korek so, hal ini mengisyaratkan, melambangkan makna lisik cerdik, bidik, pandai, giat, gesit yang ada pada diri pribadi Urang Gayo yang sebenarnya,” jelasnya

Menurut pria kelahiran 1963 tersebut, disini adanya istilah revitalisasi berarti pengembalian, (kite ulaken ku sedenge) sebutnya.

“Bagaimana jaman begitu sekarang (kune jemen lagu noya besilo), meski tak semudah membalikkan telapak tapak tangan setidaknya kita pertahankan, baik bahasa, budaya, adat terlebih agama, agar tidak terjadi degradasi (pergeseran nilai otentik)” jelasnya,

Ilustrasinya perubahan ini diperkuat lagi dengan melihat serangkai peristiwa kerusakan alam Gayo, baik banjir dan longsor, selama beberapa dekade terakhir di didaerah Gayo khususnya.

“Semua itu tidak terlepas dari keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan hingga keserakahan, amarah kekuasaaan hingga berdampak pada kerusakan alam Gayo yang terjadi khususnya meliputi hutan, air dan perambahan hutan, penjarahan serta eksploitasi berlebihan,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya hal ini secara tidak  langsung telah terjadi degradasi nilai luhur sebagaimana yang di tuangkan dalam lagu tawar sedenge tersebut

Menurut penjelasan apabila kita berkaca dengan dengan pristiwa moralitas dan kejadian bencana yang terjadi didaerah Gayo ini, semua ini sudah jauh dari makna sejati yang tertuang dalam lirik lagu, tawar sedenge.

“Setidaknya Fenomena ini sudah menciderai keabasahan makna sakral yang tertuang dalam lirik lagu tersebut,” tegasnya.

Dibalik itu, tokoh serta pemerhati Gayo ini mengajak semua elemen dan unsur agar bisa urang Gayo umumnya bisa kembali kepada apa yang diamanahkan para leluhur Urang Gayo, “ulakmi kite ku sedenge”.

Berikut lagu kebanggaan masyarakat Gayo, Tawar Sedenge:

Engon ko so tanoh Gayo, Si megah mureta dele.

Rum batang nuyem si ijo, Kupi bakoe

 

Pengenko tok ni korek so, Uetmi ko tanoh Gayo

Sesilen pumu ni baju, Netah dirimu

 

Nti daten bor kelieten, Mongot pudederu

Oya le rahmat ni Tuhen, Ken ko bewenmu

 

Uetmi ko tanoh Gayo, Sembayak bajungku

Ken tawar roh muyang datu, Uetmi masku

 

Wo matangku si mumimpin, Emah ko uyem ken soloh

Kati kedeng nti museltu, Ilah ni dene

 

Wo kedeng kao ken cermin, Remalan enti berteduh

Nti mera kao tang/tar duru, Bon jema dele

 

Nti osan ku pumuni jema, Pesaka si ara

Tenaring ni muyang datu, Ken ko bewenmu

 

Uetmi ko tanoh Gayo, Ko upuh bajungku

Ken tawar roh muyang datu, uetmi masku

(RH/FA)

Pos terkait