Terkait Kasus Sebaran Foto, Keluarga MS Sebut Ada Dugaan Intervensi Pelapor

  • Whatsapp
Terkait Dugaan Sebaran Foto, Keluarga MS Lapor Balik Ketua DPRK Abdya ke Polda Aceh
Foto: analisisnews.com/agus s KETERANGAN PERS: Kapolres Abdya, AKBP Dhani Catra SH SIK MH didampingi Wakapolres Kompol Muhayat Effendi SH MH dan Kasat Reskrim, Iptu Rifki Muslim memberikan keterangan pers terkait kasus penyebaran foto tidak senono anak Ketua DPRK Abdya, Kamis (18/8/2022) lalu.

BLANGPIDIE-Pihak keluarga MS (20) warga salah satu desa di Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang merupakan terlapor dalam dugaan kasus penyebaran foto tak senonoh MP (20) anak kandung unsur Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat, menyebutkan ada dugaan intervensi pelapor sehingga kinerja jajaran Polres Abdya terkesan tidak profesional. Hal itu disampaikan HM selaku keluarga MS melalui siaran persnya kepada wartawan, Sabtu (20/8/2022).

“Kami dari keluarga MS tidak terima dengan proses pemeriksaan, penangkapan dan penahanan MS terkait kasus yang dilaporkan unsur Pimpinan DPRK Abdya yakni ND ke Polres Abdya,” ujarnya.

Disebutkan, pihaknya menemukan beberapa kejanggalan dalam proses pemerikasaan, penangkapan  dan penahanan MS oleh Sat Reskrim Polres Abdya. Dalam konferensi Pers di Mapolres Abdya beberapa waktu lalu,  Kapolres Abdya, AKBP Dhani Catra SH SIK MH menyampaikan, pelapor yakni ND melaporkan kasus itu pada 12 Agustus 2022, hal ini juga tertuang dalam kronologi pengungkapan terhadap kasus itu. Faktanya MS, diperiksa pada 8 Agustus oleh Sat Reskrim Polres Abdya yang waktu itu juga dihadapkan dengan pelapor ND dan handphone milik MS langsung disita oleh salah satu personel.

Dalam proses pemeriksaan, MS tidak pernah diberikan surat pemanggilan resmi sebagai saksi atau dalam status apapun. MS dihubungi melalui saluran seluler ke nomor kontak abang MS untuk datang ke Mapolres Abdya guna diperiksa pada 8 Agustus 2022.

“Salah satu personel Polres Abdya menelepon abang ipar MS yakni Darwis sekitar jam 10.00 WIB pagi. MS bersama Darwis datang ke Polres sekitar jam 11.00 WIB dan diperiksa. Berdasarkan keterangan Darwis, disana juga dihadirkan ND selaku pelapor.Berat dugaan kami,  pelapor yang juga unsur Pimpinan DPRK Abdya mengintervensi kasus tersebut.” paparnya.

Ditambahkan, pada 15 Agustus 2022, MS diminta datang ke Polres Abdya dan salah satu personel Polres menghubungi Darwis sekitar jam 14.00 WIB yang meminta membawa MS ke Polres serta ada juga permintaan dari pihak kepolisian mau dijemput atau diantar.

“Darwis menyampaikan diantar saja. MS kemudian kami antar ke Polres Abdya. Setelah diperiksa, kemudian diminta untuk menunggu surat penangkapan. Lama menunggu, surat penangkapan keluar pukul 20.00 WIB malam. Seharusnya, sebelum dikeluarkan surat penahanan, MS diperiksa dulu, dipanggil secara resmi dengan surat sebagai saksi. Namun faktanya, MS diperiksa secara tidak resmi, tidak professional dan tidak sesuai aturan. Kami kembali menduga kasus ini diintervensi oleh pelapor,” tuturnya.

Dalam surat tanda penerimaan barang bukti, barang bukti diterima tanggal 15 Agustus 2022. Faktanya barang bukti sudah lebih dulu disita pada 8 Agustus 2022 pada saat MS pertama kali diperiksa tanpa ada yang melapor secara resmi. Pihak keluarga menduga tindakan tersebut karena adanya hubungan kedekatan Kapolres dengan pelapor selaku unsur Pimpinan DPRK Abdya.

“Dengan adanya beberapa kejanggalan saat proses pemeriksaan, penangkapan dan penahanan MS, kami selaku keluarga MS akan melaporkan Kapolres Abdya, Kasat Reskrim, serta personel yang tersebut dalam surat penangkapan dan penahan MS ke Propam Polda Aceh, Kapolri (Propam Polri), Presiden dan Komisi III DPR RI,” tutupnya.(ag)

Pos terkait