Perkim dan LH Abdya Perbanyak Kampung Iklim

Perkim dan LH Abdya Perbanyak Kampung Iklim
Kepala Dinas Perkim dan LH Abdya, Rahwadi Ar ST

BLANGPIDIE-Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus berupaya menambah kampung iklim. Hal itu dilakukan untuk menciptakan pola hidup warga rendah emisi gas rumah kaca (GRK) dan mempersiapkan masyarakat yang berketahanan iklim.

Kepala Dinas Perkim dan LH Abdya, Rahwadi Ar ST Rabu (1/3/2023) menyebutkan, di Abdya telah ada 30 desa diusulkan untuk menjalankan program kampung iklim (Proklim). Proses pengusulannya dilakukan melalui aplikasi secara online. Sebelumnya Abdya telah memiliki tiga gampong (Desa) yang meraih penghargaan Proklim Utama secara berturut-turut dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Tiga desa yang meraih tropi Proklim Utama itu, yakni Desa Padang, Kecamatan Manggeng tahun 2020 tepatnya di kawasan Dusun Lhok Batee Intan. Lalu Desa Rukon Damee, Kecamatan Babahrot tahun 2021 dan Desa Alue Sungai Pinang, Kecamatan Jeumpa tahun 2022. Sedangkan untuk 2023, usulan Proklim lebih dititik beratkan pada program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara berkelanjutan sebagai upaya menciptakan pola hidup rendah emisi gas rumah kaca.

“Tahun ini ada dua program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diikuti 30 desa di Abdya, yakni, Proklim Lestari dan Proklim Utama,” terangnya.

Ada beberapa aspek yang menjadi tolak ukur dalam penetapan kampung iklim tersebut. Salah satunya dilihat dari kemampuan desa melakukan mitigasi dan adaptasi bila sewaktu-waktu ada perubahan iklim.  Program ini salah satu upaya pemerintah mencapai target Update Nationnally Determined Contribution (NDC). Menciptakan masyarakat berketahanan iklim dengan cara menerapkan pola hidup rendah emisi gas kaca.

Ditambahkan, Pj Bupati Abdya H Darmansah SPd MM memberikan dukungan penuh terhadap program nasional itu karena dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan seperti menanam pohon di halaman rumah juga mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari. Khusus Proklim Lestari Abdya menerapkan pada 10 desa berbasis hutan untuk memenuhi target Presiden Joko Widodo sebanyak 20 ribu desa Proklim di Indonesia sudah teregister SRN di KLHK pada tahun 2024 mendatang.

Lebih lanjut dikatakan, termuat dalam peraturan bahwa kegiatan di lokasi ProKlim harus mencakup tiga komponen kegiatan. Satu, kegiatan adaptasi perubahan iklim meliputi kegiatan pengendalian kekeringan, banjir dan longsor, peningkatan ketahanan pangan, antisipasi kenaikan muka air laut dan pengendalian penyakit terkait iklim. Dua, kegiatan mitigasi perubahan iklim, mencakup pengelolaan sampah dan limbah, penggunaan energi baru terbarukan, konservasi dan penghematan energi, budidaya pertanian rendah emisi GRK, peningkatan tutupan vegetasi serta pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Kemudian tiga, aspek kelembagaan dan dukungan keberlanjutan kegiatan yang mencakup kelompok masyarakat, dukungan kebijakan, dinamika kemasyarakatan, kapasitas masyarakat, keterlibatan pihak eksternal, pengembangan kegiatan serta manfaat sosial, ekonomi, lingkungan dan pengurangan risiko bencana iklim.

Pengembangan kegiatan di lokasi ProKlim diharapkan terlaksana secara komprehensif meliputi tahapan identifikasi kerentanan dan risiko perubahan iklim, identifikasi sumber emisi dan serapan gas rumah kaca, peningkatan kapasitas masyarakat untuk mendukung aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, penyusunan rencana aksi, pelaksanaan aksi, peningkatan kapasitas akses sumberdaya pendanaan, teknologi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta pemantauan dan evaluasi aksi.

“Proklim ini bertujuan untuk menumbuhkan ekonomi hijau dan sirkulasi ekonomi berbasis kesadaran perubahan iklim, guna mencapai pelayanan jasa ekosistem di lokasi Proklim mitigasi, adaptasi, dan kegiatan-kelompok masyarakat,” pungkasnya. (ag)