Pemkab Abdya Tetapkan Pelaksanaan Meugang 1444 H

Pj Bupati Darmansah: Abdya Darurat Narkoba
Penjabat (Pj) Bupati Abdya, H Darmansah SPd MM

BLANGPIDIE-Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Pemkab Abdya) menetapkan hari meugang (hari punggahan) menyambut puasa Ramadan 1444 Hijriah pada Selasa (21/3/2023) mendatang. Penetapan pelaksanaan tradisi meugang itu berdasarkan surat edaran nomor 450/438 tentang pelaksanaan hari meugang yang ditandatangani Penjabat (Pj) Bupati Abdya, H Darmansah SPd MM.

Dalam surat edaran yang diterima wartawan, Rabu (15/3/2023) menyebutkan, titik lokasi penjualan daging kerbau maupun lembu pada hari meugang dimaksud dianjurkan pada lokasi yang aman, bersih dan tidak menggangu arus lalulintas. Kemudian ternak yang dipotongpun harus sehat dan bebas dari penyakit menular yang dibuktikan dengan surat kesehatan ternak yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian dan Pangan Abdya.

Catatan wartawan, sebelum pandemi Covid-19 melanda, penjualan daging kerbau maupun lembu berlangsung di lokasi terbuka seperti di bantaran Krueng Beukah Kecamatan Blangpidie, di lapangan Desa Seunulop Kecamatan Manggeng dan sejumlah lokasi lainnya yang telah ada sejak lama serta telah menjadi lokasi pasar meugang dadakan terfavorit bagi warga kabupaten setempat. Namun, ketika Covid melanda, penjualan daging meugang dilaksanakan di lingkungan masing-masing untuk menghindari terjadinya kerumunan warga.

Untuk tahun ini, dalam surat edaran tersebut tidak menegaskan terkait pembatasan lokasi penjualan daging meugang seperti saat Covid melanda. Tentu hal itu membawa angin segar bagi para pedagang untuk dapat berjualan dengan aman seperti sediakala.

Bagi masyarakat Aceh khususnya Abdya, tradisi meugang dapat dipahami sebagai kegembiraan. Kegembiraan ini biasanya diaplikasikan dalam menyambut salah satu bulan yang sangat spesial dan istimewa seperti puasa Ramadan maupun menyambut lebaran.

Meugang kemudian menghiasi bulan tersebut dengan menyambutnya baik datang ataupun pada akhir bulan mulia ini. Momentum menyambut bulan Ramadan inilah yang dihiasi prosesi unik bagi masyarakat Aceh. Bagi masyarakat Aceh, meugang dimaknai sebagai waktu kebahagiaan yaitu dalam menyambut sekaligus merayakan datangnya atau berakhirnya bulan Ramadan.

Kegembiraan ini dituangkan dalam bentuk kuliner atau nuansa makan besar. Makanan yang paling enak dalam meugang ini adalah daging baik lembu, kerbau maupun ayam. Selain itu, dalam kehidupan manusia makanan yang paling umum dan enak dinilai daging. Dari itu, dalam tradisi meugang daging menjadi pilihan dalam menyambut hari spesial tersebut.

Sementara itu dalam pandangan Islam, meugang juga menyimpan nilai-nilai Islam. Nilai Islam tersebut terletak dalam menyemarakan penyambutan bulan Ramadan itu berdasarkan perintah Islam. Bahkan dalam pelaksanaan meugang juga kental dengan nuansa berbagi makanan sesama tetangga maupun saudara, orang tua serta yang lebih khusus kepada warga kurang mampu.(ag)