Gepeng Membludak, Masyarakat Harap Pemko Langsa Bertindak

Fenomena gepeng anak berkeliaran di Kota Langsa/ NJ
Fenomena gepeng anak berkeliaran di Kota Langsa/ NJ

LANGSA – Fenomena gelandangan dan pengemis di Kota Langsa populasinya sangat mudah ditemui, setiap hari para gepeng khususnya anak berkeliaran di beberapa sudut keramaian kota Langsa. mereka mengemis dengan beragam cara, ada yang menggunakan kotak sumbangan ada juga yang berpakaian badut dan dipandu oleh temannya, Sabtu (18/5/2024)

Selain itu, keberadaan kelompok remaja pengamen juga menambah problematika tersendiri di Kota Langsa,Tentunya keberadaan mereka ini selain membahayakan bagi diri sendiri, juga dikhawatirkan mengganggu pengendara lain yang terlebih di jalan padat. apalagi beberapa waktu lalu petugas Satpol PP telah mengamankan sekelompok pengamen yang diduga terindikasi menggunakan narkoba di dalam sebuah gedung ex pemerintahan seputaran Lapangan Merdeka.

masyarakat mempertanyakan mengapa pemerintah Kota Langsa tidak mengambil tindakan atas hal tersebut. seperti yang disampaikan MN (52) ia berpendapat diduga kuat keberadaan gepeng anak di Kota Langsa telah dikoordinir oleh pihak tertentu dan aktivitas itu bukan hal baru namun sudah berlangsung lama.

“Sudah bukan rahasia umum lagi soal mereka, dulu kita kasihan karena anak miskin atau yatim piatu ngemis karena gak ada uang maka masyarakat peduli, tapi kenapa mereka ramai sekali karena saya melihat langsung mereka turun dan diantar pakai becak beramai-ramai,” Ungkap MN.

Analisisnews.com menjumpai beberapa gepeng anak saat sedang mengemis di salah satu cafe, anak-anak itu mengaku mengemis sepulang sekolah atau ada yang hanya malam hari saja. Tujuan mereka beragam, ada yang disuruh oleh orang tuanya, dan ironisnya pernah ditemukan seorang anak yang tidak berani pulang kerumah bila target hasil mengemis yang ia dapatkan tidak sesuai jumlah yang ditentukan.

sementara itu, media ini juga mewawancarai beberapa anak yang berpakaian badut, Jumat (17/5/2024) mereka mengatakan, bahwa baju tersebut dipinjamkan dengan perjanjian mereka membayar sejumlah uang ke pemilik baju badut sekitar 35 ribu per hari dan pemilik baju tersebut tinggal di salah satu gampong dalam wilayah Langsa Barat.

Terlepas dari apapun motif anak-anak gepeng itu, Tentu hal itu sangat tidak baik yang seharusnya seusia mereka tidak boleh melakukan kegiatan tersebut. selain itu juga belum diketahui kebenaran motifnya, berkaca pada kejadian 2 bulan lalu yang pernah heboh di ibukota provinsi Aceh tentang temuan anak yang dipaksa mengemis demi membeli kebutuhan narkoba untuk orang tuanya. maka hal antisipasi perlu dilakukan oleh pemerintah daerah agar hal ini tidak terjadi di Kota Langsa.

Maka sepatutnya Pemerintah Kota Langsa memiliki keberanian dalam menindaklanjuti hal itu serta mengawasi tempat fasilitas publik agar tidak digunakan untuk kepentingan kelompok yang meresahkan masyarakat sehingga tidak memberi citra buruk bagi Kota Langsa yang telah mendapatkan predikat Kota Layak anak ini.(NJ)